Sabtu, 27 Desember 2014

Di Balik Sejarah Cina Philipina


Saat ini dari 2,1 juta jiwa ethnik Cina (4% dari seluruh populasi) yang tinggal di Philipina, 85% lahir di Philipina. Tetapi, kenyataannya tersisa hanya 30% yang merupakan warga negara Philipina karena kelahiran ataupun secara naturalisasi. Hal ini disebabkan karena kelahiran mereka di Philipina dari orang tua berkebangsaan Cina yang memiliki dua kewarganegaraan dan mereka menjadi orang Philipina hanya jika mereka memilih untuk menjadi warga negara Philipina.



Kehadiran bangsa Cina di Philipina sekitar tahun 200 SM. Pada tahun 1656, buku harian Fa-Hian ditemukan, menggambarkan keadaan Philipina pada permulaan abad ke-3 dibawah nama Ma-i, berasal dari kata Mait yang merupakan kerajaan di Mindoro.
Pada abad ke-14, hubungan dagang dengan menggunakan sistem barter antara Cina dan Philipina telah terjalin secara luas. Bangsa Cina membawa barang untuk ditukar berupa sutra, porselin, kaca berwarna dan manik-manik untuk rami, mutiara, kerang, dan lilin berwarna kuning asli buatan Cina. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa bangsa Cina menetap di negara ini pada awal hubungan dagang, sebelum Spanyol menaklukan Philipina. Pada tahun 1571, orang-orang Spanyol menemukan 40 pedagang Cina dan keluarganya yang menetap di Manila. Dan selanjutnya dijumpai di Mindoro dan daerah Luzon yang menjadi propinsi Pangasinan.
Orang-orang Spanyol mengucilkan Cina dari komunitas lokal untuk menjaga mereka tetap dibawah pengawasan Spanyol dan untuk menadapatkan fasilitas berupa pengumpulan pajak. Spanyol mendirikan Parian, lokasi tempat bermukimnya orang-orang Cina yang mana saat ini bernama Mehan Garden. Pada tahun 1683, kota Parian dipindahkan ke Binondo yang sampai sekarang dikenal sebagai Pecinan.
Karena pada dasarnya bangsa Cina suka berdagang, maka barang dagangan yang mereka bawa disambut baik meskipun diyakini sebagai ancaman ekonomi oleh orang-orang Spanyol dan Philipina. Disebutkan beberapa kali dalam sejarah, permusuhan dapat dihindari. Pertumpahan darah dari pihak Cina terjadi pertama kali pada tahun 1603 diikuti dengan dua pemberontakan pada tahun 1639 dan 1662 yang dilakukan oleh orang-orang Cina. Setelah kejadian tersebut, kecurigaan dan permusuhan terpendam berlanjut. Hal ini dapat dilihat dari sikap orang-orang Philipina terhadap ethnik Cina. Pada tahun 1924, Quiapo Riot ambil bagian, diikuti dengan kota San Pablo pada tahun 1931 dimana ribuan orang Cina dibunuh. Tetapi pada akhir abad ini, pembantaian dan pemberontakan tidak meluas sampai ke negara Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia dan Indonesia.
Selama masa pendudukan Amerika Serikat, keberhasilan Cina yang pertama adalah dihilangkannya larangan-larangan dari bangsa Spanyol. Pada tahun 1902 Aksi Pelepasan Cina di Amerika Serikat dilaksanakan secara efektif di Philipina. Masuknya orang-orang Cina ke negara ini benar-benar dilarang dan politik "Philipina untuk orang-orang Philipina" diperkenalkan sebagai media dari aksi anti-Cina. Lebih jauh lagi, kepemilikan Philipina akan perdagangan retail telah diatur.
Saat ini, ethnis Cina dalam proses asimilasi. Pengelompokan ethnis Cina dalam komunitas mereka sendiri selain daripada orang-orang Philipina berpusat di Manila diantara para tetua Cina. Hal ini tidak berlangsung lama dalam generasi muda Cina yang terdapat di beberapa provinsi. Bahkan orang-orang Cina masa kini lebih memilih pakaian-pakaian ala Barat.
Kendala untuk melakukan asimilasi adalah tingkat prasangka dan kecemburuan pada sebagian orang Philipina umumnya yang merupakan keturunan non-Cina. Di satu sisi, sebagaimana tercatat pada terbitan Tempo 18 April 1990, "Tren perdebatan teori alasan mengapa beberapa negara tetangga kita mencapai status superstar sebagai NIC (Negara Industri Baru) merupakan pengaruh dari kebudayaan etnis Cina". Inti dari kebudayaan ini adalah berdasarkan pada ajaran Conficius bahwa hak itu memiliki batas dan tanggung jawab menyertainya merupakan latihan bagi kepentingan individu diantara kebaikan lainnya.
"Itulah mengapa, hal ini memberikan sugesti bahwa Taiwan, Singapur, dan Hongkong dengan populasi orang-orang Cina-nya telah melompat kedepan mendahului negara-negara Asia lainnya dalam prospek ekonomi. Faktor lainnya adalah sejak dulu orang-orang Cina merupakan pelaku bisnis di Asia".
Untuk negara Philipina, teori yang bagus ini sepertinya memerlukan revisi. Kenyataanya, bagian terbesar dari populasi negara ini adalah Melayu-Philipina. Tetapi lihatlah kembali : beberapa pemimpin ekonomi Philipina adalah orang-orang Cina-Philipina atau orang-orang Philipina yang telah bergabung dalam arus perekonomian ini. Mereka adalah orang-orang yang menggerakan ekonomi.
Tetapi disisi lain kesuksesan ini memiliki kekurangan seperti yang dinyatakan dalam TheManila Standard terbitan 7 Februari 1990. "... sebagian besar perkiraan utama bahwa jumlah orang Cina-Philipina telah mengalami penurunan, tetapi dalam bidang ekonomi mereka telah mencapai lebih dari warga negara lainnya di negara kita dan sebagai hasilnya menimbulkan rasa iri hati dalam perolehan uang. Kecemburuan kita dan kecintaan akan rasa bangga pada diri sendiri membuat hal ini menjadi sulit untuk menandai tingkat yang lebih tinggi terhadap keberhasilan orang-orang Cina-Philipina yang tinggal di negara kita dengan keterampilan yang mereka miliki, kerja keras, disiplin, dan sifat hemat. Tetapi mereka tunjukkan sebagai individu yang memiliki rasa solidaritas, kerjasama, dan saling menolong dalam hidup bermasyarakat. Hal ini jauh lebih nyaman bagi ego kita untuk mempercayai bahwa kesuksesan orang Cina-Philipina adalah tidak sah dan tidak bermoral dengan mengorbankan teman mereka yaitu orang-orang Philipina. Rasionalisasi seperti ini menyimpulkan : hal ini menjelaskan mengapa kita miskin dan mereka kaya".
Penolakan Cina-Philipina oleh orang-orang Melayu-Philipina juga dimuat dalam The Manila Standard terbitan 27 Januari 1990 : " ... seharusnya kita bertanya pada diri sendiri apakah pemisahan kita dengan orang-orang Cina-Philipina hanyalah dikarenakan dengan perayaan Tahun Baru Cina yang mana kita tidak perlu ambil bagian di dalamnya ataupun terhadap keluarga-keluarga Cina atas ketidaksenangan kita untuk menerima begitu banyak orang Cina dalam hubungan pergaulan komunitas kita. Dalam tatanegara kewarganegaraan kita, untuk singkatnya, terdapat kesalahan akibat dari pertentangan yang besar : kita bersedia memberikan izin kewarganegaraan terhadap orang-orang asing yang menginvestasikan sejumlah besar uangnya di negara ini, tetapi kita tidak bersedia menerima hal serupa dari orang-orang Cina yang lahir disini bersama dengan para leluhurnya yang mana mereka telah menginvestasikan hidup dan keberuntungannya di negara ini sampai kita menerima kehadiran orang-orang Cina dalam hubungan pergaulan komunitas masyarakat kita, kita tidak dapat menerima untuk ambil bagian dari perayaan Tahun Baru Cina".
Perayaan Tahun Baru Cina selama bulan Februari dianggap sebagai suatu hal yang kuno, merupakan acara keluarga, atau dilestarikan sebagai daya tarik untuk turis-turis Cina yang berasal dari Hongkong, dimana saat ini banyak orang Cina-Philipina yang merayakan Tahun Baru sebagaimana orang-orang Philipina merayakannya. Banyak juga ethnik Cina yang merayakan Natal dimana mereka telah memeluk agama Kristen meskipun hidup diantara para tetua Cina dan terkadang tradisi yang lebih modern yaitu para pemeluk Taoisme Cina, Budha, dan Confucianisme. Orang Cina-Philipina lebih banyak merayakan Hari All Saints pada tanggal 1 Nopember daripada hari tradisionalnya, yaitu peringatan kematian pada tanggal 5 April. Langkah kedepan diambil untuk integrasi kedalam masyarakat Philipina. Mereka mengganti tiga suku kata nama keluarga Cina menjadi nama keluarga Philipina. Beberapa nama keluarga asli Philipina yang digunakan oleh penduduk ethnik Cina adalah Bengson, Locsin, Tanseco, Ongpin, dan Cojuangco merupakan nama keluarga anak perempuan Presiden Philipina Corazon Aquino.
Walaupun langkah-langkah dalam pencapaian integrasi telah diambil, penduduk ethnik Cina masih tetap memelihara rumah sakit-rumah sakit mereka dan sekolah-sekolah yang terdapat di negara ini, mengajarkan bahasa-bahasa Cina (Fookien, Mandarin, Kanton), nyanyian, drama, dan tari-tarian mereka. Lebih jauh lagi, organisasi orang-orang Cina masih tetap dibentuk menurut suatu nama keluarga, daerah asal, ataupun bidang usaha dan dagang.

Sumber: http://www.asiamaya.com

2 komentar:

  1. admin numpang promo ya.. :)
    cuma di sini tempat judi online yang aman dan terpecaya di indonesia
    banyak kejutan menanti para temen sekalian
    cuma di sini agent judi online dengan proses cepat kurang dari 2 menit :)
    ayo segera bergabung di fansbetting atau add WA :+855963156245^_^
    F4ns Bett1ng agen judi online aman dan terpercaya
    Jangan ragu, menang berapa pun pasti kami proseskan..

    BalasHapus
  2. Did you hear there's a 12 word phrase you can say to your partner... that will trigger deep feelings of love and instinctual appeal for you buried inside his heart?

    Because deep inside these 12 words is a "secret signal" that triggers a man's impulse to love, idolize and protect you with his entire heart...

    12 Words That Fuel A Man's Love Response

    This impulse is so hardwired into a man's genetics that it will make him try harder than ever before to to be the best lover he can be.

    Matter-of-fact, triggering this dominant impulse is absolutely important to achieving the best ever relationship with your man that the instance you send your man one of these "Secret Signals"...

    ...You'll immediately notice him expose his heart and mind to you in a way he haven't expressed before and he will identify you as the only woman in the world who has ever truly attracted him.

    BalasHapus

silahkan berkomentar dengan kalimat yang sopan