Selasa, 28 Oktober 2014

Keanehan Karya Lukisan Affandi

karya lukisan affandi

karya lukisan affandi

Jika anda membaca sepintas dari judul posting ini, mungkin anda bertanya-tanya dalam hati gerangan keanehan apa yang terdapat pada lukisan affandi, sebenarnya posting ini bukan mengenai keanehan pada objek ataupun lukisan asli yang dibuat oleh seniman lukis Affandi yang bisa anda lihat diatas, namun ini adalah merupakan keanehan pada file atau image dengan objek lukisan affandi yang admin alami sendiri secara nyata, dan sampai saat admin membuat posting ini, jawaban tentang keanehan gambar lukisan affandi tersebut diatas belum admin temukan.

Kejadian aneh ini benar-benar admin alami sendiri secara nyata tanpa ada unsur rekayasa sedikitpun, dan semoga admin tidak pernah berniat sedikitpun untuk hal-hal seperti itu yang tidak ada untungnya buat kami.

Kejadian aneh yang admin alami adalah, kemarin malam tepatnya malam sabtu, 13 Desember 2013, kami mengupload image karya lukisan affandi sebanyak 103 sekaligus, di server google.com album web picasa. dan sebagian sudah kami bagikan kepada anda yaitu sebanyak 36 gambar lukisan affandi. Nah, ketika kami sementara memposting gambar lukisan affandi tersebut, admin menemukan file lukisan yang ganda atau dua. Awalnya kami tidak terlalu peduli, namun karena file ganda tersebut sering kami lihat, ternyata kami menemukan file yang satu tersebut berbeda, meskipun dengan objek yang sama. ada butiran-butiran putih yang terlihat bergerak seperti salju. sementara file yang satu tidak ada. Dan lucunya lagi nama file tersebut sama yaitu "Boats" namun file yang aneh ada tulisan dibelakang kata, "snow" yang ternyata artinya "salju"

Karena penasaran, kami kemudian mencari dipenyimpanan drive kami, tapi kami tidak menemukannya sama sekali. Kami menjadi semakin heran, ko bisa ada.

Dengan keterbatasan di dunia IT, kami mencoba mencari jawabannya, dengan search di google, file tersebut dengan tanda petik biar akurat "boats-SNOW".  tidak satupun keluar gambar lukisan affandi, bahkan kami sudah tambah kata "affandi" dibelakang kata. tapi tetap tidak ditemukan.

Okelah misalnya karena kecanggihan teknologi orang mampu membuat gambar gif dengan efek salju seperti itu, namun keanehannya disini adalah kenapa bisa ada muncul dengan sendirinya. Itulah keanehan karya lukisan affandi yang admin alami sendiri.

Sebagai tambahan dan ringkasan berikut hal yang bisa kami uraikan :
  1. File tersebut tidak ada dalam drive kami, sudah dicari secara manual dan dengan windows search
  2. File yang kami upload sebanyak 103 namun terdapat 104 pada album web picasa.
  3. File dengan lukisan Boats menjadi 2, yang bisa anda lihat diatas, namun nama file yang ganda ada tulisan "snow" dengan ekstensi .gif dan memang ada efek salju.
  4. Kami sama sekali tidak mengetahui cara membuat efek salju seperti diatas menggunakan aplikasi animasi. apalagi masalah script atau coding.
  5. Kita semua mengetahui, Album web picasa hanyalah sekedar server menyimpan gambar dan tidak bisa mengedit file seperti yang terdapat pada instagram dan semacamnya, jadi kesalahan menambah efek sangat mustahil terjadi.
  6. File lukisan affandi tersebut admin upload pada folder tersendiri sehingga tidak tercampur dengan file gambar yang lain.
  7. Ketika membandingkan kedua file tersebut file asli memiliki ukuran lebih besar yaitu 895x717 sementara yang kedua ukuran 800x641 dengan besar file 1,05Mb.
  8. Ketika kami mencoba melihat metadata dari kedua file tersebut, file .gif tidak memiliki metadata sebagaimana lazimnya semua file yang kami begikan disini yang memiliki Metadata.
  9. Ketika mencoba search di google dengan memakai tanda petik, kami juga tidak menemukan file tersebut.
Itulah ringkasan yang bisa kami uraikan dari kedua gambar tersebut diatas.
Bagi anda yang kebetulan membaca posting ini dan memiliki kemampuan IT, mohon kiranya memberikan komentar dan pencerahan kepada kami yang masih pemula dalam hal IT ini, sehingga kami menemukan jawabannya. 

sumber: http://blog-senirupa.blogspot.com

Nama dan Makna Motif Tana Toraja



Motif Tana Toraja
Ragam Motif Tana Toraja
Setiap ukiran dan motif pada ragam hias Tana Toraja atau Tator memiliki nama dan makna khusus. Motifnya biasanya adalah hewan dan tanaman yang melambangkan kebajikan, contohnya tanaman air seperti gulma air dan hewan seperti kepiting dan kecebong yang melambangkan kesuburan. Gambar kiri memperlihatkan contoh ukiran kayu Toraja, terdiri atas 15 panel persegi. Panel tengah bawah melambangkan kerbau atau kekayaan, sebagai harapan agar suatu keluarga memperoleh banyak kerbau. Panel tengah melambangkan simpul dan kotak, sebuah harapan agar semua keturunan keluarga akan bahagia dan hidup dalam kedamaian, seperti barang-barang yang tersimpan dalam sebuah kotak. Kotak bagian kiri atas dan kanan atas melambangkan hewan air, menunjukkan kebutuhan untuk bergerak cepat dan bekerja keras, seperti hewan yang bergerak di permukaan air. Hal Ini juga menunjukkan adanya kebutuhan akan keahlian tertentu untuk menghasilkan hasil yang baik.

Keteraturan dan ketertiban merupakan ciri umum dalam ukiran kayu Toraja, selain itu ukiran kayu Toraja juga abstrak dan geometris. Alam sering digunakan sebagai dasar dari ornamen Toraja, karena alam penuh dengan abstraksi dan geometri yang teratur. Ornamen Toraja dipelajari dalam ethnomatematika dengan tujuan mengungkap struktur matematikanya meskipun suku Toraja membuat ukiran ini hanya berdasarkan taksiran mereka sendiri. Suku Toraja menggunakan bambu untuk membuat oranamen geometris.

Nama dan Makna Ragam Motif Toraja

Ukiran Toraja adalah kesenian ukir Melayu khas suku bangsa Toraja di Sulawesi Selatan. Ukiran ini dicetak menggunakan alat ukir khusus di atas sebuah papan kayu, tiang rumah adat, jendela, atau pintu. Motif ukiran Toraja bermacam-macam, antara lain cerita rakyat, benda di langit, binatang yang disakralkan, peralatan rumah tangga, atau tumbuh-tumbuhan. Nama dan MaknaMotif  Toraja dapat kami uraikan antara lain:

Neq Limbongan

Motif Tator "Neq Limbongan"
Orang Toraja meyakini bahwa nama ini diambil dari nama leluhur mereka yakni Limbongan yang diperkirakan hidup pada 3000 tahun yang lalu. Sedangkan neq berarti “danau”. Dalam pengertian orang Toraja, limbongan berarti sumber mata air yang tidak pernah kering sehingga menjadi sumber kehidupan. Oleh karena itu, motif ukiran ini berbentuk aliran air yang memutar dengan panah di keempat arah mata angin. Motif ini memiliki makna bahwa rejeki akan datang dari 4 penjuru bagaikan mata air yang bersatu dalam danau dan memberi kebahagiaan.

Paqbarre allo

Motif Tator "Paqbarre Allo"
Barre artinya “bulatan”, dan allo artinya “matahari”. Ukiran jenis ini menyerupai bulatan matahari dengan pancaran sinarnya dan biasanya ada di salah satu bagian belakang atau depan rumah di bawah ukiran paqmanuk londong yang berbentuk segitiga. Ukiran ini dimaknai sebagai ilmu pengetahuan dan kearifan yang menerangi layaknya matahari.

Paqkapuq baka

Motif Tana Toraja
Motif Tator "Paqkapuq Baka"
Kapuq artinya “ikatan” dan baka artinya “bakul” atau “keranjang”. Motif ukiran ini menyerupai ikatan pada penutup bakul (tempat menyimpan pakaian) yang bagi orang Toraja dianggap sakral. Jika ikatan bakul berubah, dipercaya bahwa ada yang mencuri pakaian di dalamnya. Ukiran ini dimaknai sebagai harapan agar keturunan senantiasa bersatu dan senantiasa hidup damai dan sejahtera.

Paqkadang pao

Motif Tana Toraja
Motif Tator "Paqkadang Pao"
Nama ini berarti “kait mangga”. Oleh Karena itu, ukiran ini berbentuk seperti kait penjolok yang digunakan untuk mengambil mangga. Ukiran ini dimaknai bahwa untuk mengaitkan harta benda ke rumah harus dengan cara yang jujur dan perlu kerjasama di lingkungan keluarga atau masyarakat.

Paqsulan sangbua

Motif Tana Toraja
Motif Tator Paqsulang Sangbua"
Sulan berarti “sulam” atau lipatan seperti tembakau sirih. Oleh karena itu, ukiran ini mirip sulaman tembakau sirih dan dimaknai sebagai lambang kebesaran bangsawan Toraja.

Paqbulu londong

Motif Tana Toraja
Motif Tator"Paqbulu Londong"
Kata londong berarti “ayam jantan” sehingga ukiran ini menyerupai rumbai bulu ayam jantan. Ukiran ini dimaknai sebagai lambang keperkasaan dan kearifan laki-laki atau pemimpin.

Paqtedong

Motif Tana Toraja
Motif Tator "Paqtedong"
Tedong berarti “kerbau”. Ukiran ini menyerupai tanduk kerbau dan dimaknai sebagai lambang kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat semua dan keluarga.

Paqtangko pattung

Motif Tana Toraja
Motif Tator "Paqtangko Pattung"
Istilah Paqtangko pattung berarti menyerupai paku bambu yang biasa digunakan untuk mengaitkan tiang bangunan. Ukiran ini melambangkan kebesaran bangsawan Toraja dan lambang persatuan yang kokoh seperti paku bambu.

Paqtangkiq attung II

Motif Tana Toraja
Motif Tator "Paqtangkiq Attung II"
Motif Tana Toraja jenis ini merupakan pengembangan dari Paqtangko pattung. Motif ini terdiri dari 4 bundaran benda seragam dan membentuk angka 8 sebangun, yang bila dijumlah menjadi 16, sama dengan 1+6=7. Angka 7 merupakan angka sakral bagi orang Toraja sesuai dengan falsafah aluk saqbu pitu ratuq pitung pulo pitu (Seribu Tujuh Seratus Tujuh atau 7777). Ukiran ini merupakan lambang kebersamaan dan kekeluargaan Toraja.

Paqtanduk reqpe

Motif Tana Toraja
"Paqtanduk Reqpe"
Tanduk reqpe berarti “tanduk yang menggelayut ke bawah seperti ranting pohon yang keberatan buah”. Ukiran yang menyerupai tanduk kerbau ini melambangkan perjuangan hidup dan jerih payah

Paqpolloq gayang

Motif Tana Toraja
Motif Tator"Paqpolloq Gayang"
Polloq artinya “ekor”, sedangkan gayang artinya “keris emas”. Ukiran yang menyerupai rumbai ekor penghias keris emas bangsawan Toraja ini melambangkan kebesaran, kedamaian, dan kemudahan rejeki.

Paqulu gayang

Motif Tana Toraja
Motif Tator "Paq Ulu Gayang"
Ulu artinya “bagian kepala” dan gayang artinya “keris emas”. Ukiran jenis ini menyerupai bagian kepala keris emas dan melambangkan perjuangan dalam mencari harta, terutama emas.

Paqbombo uai i I

Motif Tana Toraja
"Paq Bombo Uai"
Dalam hal ini, bombo berarti “binatang air yang melayang di atas air bagaikan angin”. Ukiran ini merupakan gambaran manusia yang harus bekerja cepat, tepat waktu, displin, dan terampil.

Paqbombo uai i II

Ukiran ini sama dengan Motif Tator Paqbombo uai i I diatas,  namun lain bentuk. Garis-garisnya agak besar dan lengkungannya jelas.

Paqkollong buqkuq

Motif Tana Toraja
Paq Kollong Bukku
Istilah ini berarti “leher burung tekukur”. Ukiran ini bentuknya menyerupai leher tekukur dan melambangkan kejujuran.

Paqulu karua

Motif Tana Toraja
Paq Ulu Karua
Ulu karua berarti “kepala delapan” yang mengacu pada mitos bahwa leluhur orang Toraja ada delapan 8 orang. Oleh Karena itu, ukiran ini menyerupai angka 8 dan melambangkan ilmu pengetahuan.

Paqmanik-manik

Motif Tana Toraja
Paq Manik-manik
Seperti namanya Motif Tator yang satu ini berbentuk manik-manik, hiasan tradisional Toraja. Ukiran ini dimaknai sebagai harapan agar anak cucu Toraja selalu hidup rukun.

Paqsekong kandaure

Motif Tana Toraja
Paq Sekong Kandaure
Ukiran ini berbentuk lengkung lingkar yang berlekuk-lekuk. Ukiran ini dimaknai sebagai harapan agar seluruh keturunan Toraja hidup berbahagia.

Paqsekong anak

Motif Tana Toraja
Motif Tator " Paq Sekong Anak"
Istilah ini berarti lengkungan bayi ketika masih ada di rahim ibu. Ukiran ini berbentuk demikian juga dan dimaknai sebagai perlambang kejujuran dan keterbukaan.

Passekong dibungai.

Motif Tana Toraja
Motif Tator "Paq Sekong diBungai"
Ukiran jenis ini hampir sama dengan sebelumnya, hanya saja lingkarannya diberi hiasan bunga-bunga. Ukiran ini menyerupai segi empat sama sisi yang ujungnya tersembunyi di bagian tengah. Ukiran ini dimaknai sebagai perlambang bahwa seseorang harus bisa menjaga rahasia.

Paqsepuq torong kong

Motif Tana Toraja
Motif Tator "Paq Sepuq Torongkong"
Ukiran ini menyerupai sulaman pundi tempat sirih. Torong kong digunakan untuk menyebut suku bangsa Rongkong yang masih serumpun dengan orang Toraja. Ukiran ini dimaknai sebagai semangat persatuan kedua suku.

Paqsalaqbiq biasa

Motif Tana Toraja
Motif Tator " Paq Salaqbiq Biasa"
Ukiran ini berbentuk pagar rumah yang terbuat dari bambu. Hal ini dimaknai sebagai perlambang sikap kehati-hatian dari segala kemungkinan ancaman.

Paqsalaqbiq ditoqmokki

Motif Tana Toraja
Motif Tator "Paq Salabiq Ditoqmokki"
Ukiran ini memiliki bentuk yang sama dengan sebelumnya, hanya saja pagar bambu dibuat lebih besar. Bentuk ini dimaknai sebagai harapan agar anak cucu terhindar dari segala wabah penyakit dan marabahaya lainnya.

Paqtalinga

Motif Tana Toraja
Motif Tator "Paq Talinga"
Talinga artinya telinga. Ukiran ini dimaknai sebagai peringatan agar manusia menggunakan telinganya dengan benar.

Paqbokoq komba kaluaq

Motif Tana Toraja
Paq Bokoq Komba Kaluaq
Ukiran ini menyerupai hiasan pada gelang emas dan manik-manik yang dipakai saat upacara adat. Ukiran ini dimaknai sebagai perlambang kewibawaan dan kebesaran kaum bangsawan Toraja.

Paqerong

Motif Tana Toraja
Paq Erong
Erong adalah peti untuk menyimpan tulang-belulang orang Toraja yang wafat. Erong ada yang berbentuk kepala kerbau atau babi. Ukiran ini dimaknai sebagai harapan agar arwah leluhur menjaga dan memberkahi rejeki.

Paqsiborongan

Motif Tana Toraja
Paq Siborongan
Borongan berarti “bekerja secara berkelompok”. Tradisi ini diwujudkan menjadi ukiran di rumah-rumah orang Toraja yang berbentuk seperti bunga-bunga yang mekar. Ukiran ini sebagai lambang semangat persatuan dan kekerabatan.

Paqdoti siluang I

Motif Tana Toraja
Paq Doti Siluang I
Ukiran ini merupakan repersentasi dari ilmu hitam dan kerbau. Ukiran ini biasanya terdapat pada pembungkus mayat perempuan dan dimaknai sebagai lambang keanggunan perempuan.

Paqdoti siluang II

Motif Tana Toraja
Paq Doti Siluang II
Ukiran ini berupa segi empat kecil dan besar yang bertanda silang di tengahnya. Ukiran ini biasa terdapat di rumah adat Toraja atau pada pembungkus mayat perempuan. Makna ukiran ini sebagai lambang hati-hati jika mendengar kabar dari perempuan.

Paqreopo sangbua

Motif Tana Toraja
Paq Reopo Sangbua
Ukiran ini berbentuk garis siku-siku serong yang berlapis-lapis, sebagai representasi dari gerakan tari melipat lutut. Bentuk ukiran ini biasa ditemukan di dinding lumbung adat dan dimaknai sebagai semangat kebersamaan dan gotong-royong.

Paqpolloq songkang

Motif Tana Toraja
Paq Polloq Songkang
Ukiran jenis ini berbentuk segi empat yang dibagi dalam segitiga kecil. Bentuk ini merupakan representasi dari bambu yang biasa digunakan untuk memerah susu. Oleh orang Toraja, ukiran ini dimaknai sebagai lambang kebesaran dan kemampuan bangsawan Toraja.

Paqpapan kandaure

Motif Tana Toraja
Paq Papan Kandaure
Ukiran ini berbentuk segi empat besar dan bermakna harapan menjadi rumpun keluarga besar yang bersatu.

Paqsalaqbiq dibungai

Motif Tana Toraja
Paq Salaqbiq diBungai
Bentuk ukiran ini berupa sebilah bambu yang dibuat bersilang-silang dan ujungnya runcing. Ukiran jenis ini terdapat di rumah adat Toraja dan dimaknai untuk penangkal bahaya.
sumber: Melayu Online

Ma Nene, Ritual Membangkitkan Mayat di Toraja

sumber: http://akucintanusantaraku.blogspot.com/2014/04/ma-nene-ritual-unik-suku-toraja-ritual.html


REAL LIFE ZOMBIE IN TORAJA
Misteri pengendalian mayat berjalan di Tana Toraja, Indonesia



GUNUNG Sesean, Gunung sesean (tinggi sekitar 2100 mdpl) terletak Tana Toraja Sulawesi selatan, tepatnya di kecamatan Sesean, kabupaten Toraja Utara (sekarang Tana Toraja sudah dibagi menjadi 2 Kabupaten). masih menyimpan misteri. Ritual membangunkan mayat yang menjadi tradisi warga setempat masih menjadi pertentangan sejumlah pihak. Pernahkah anda melihat bagaimana ritual masyarakat setempat membangkitkan jenazah dari kuburan.

Tana Toraja merupakan daerah kabupaten yang berada sekitar 350 KM di utara ibukota Provinsi Sulawesi selatan, Makassar. Untuk menuju kawasan ini, Anda dapat menempuhnya baik lewat darat maupun udara. Dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar penerbangan ke Toraja memakan waktu sekitar 45 menit, sedangkan melalui jalur darat akan memakan waktu kurang lebih 8 jam dari Makassar.

Tana Toraja memiliki alam dan Budaya yang khas, unik dan sangat jarang didapati di Indonesia.
Toraja adalah sebuah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa dan sebagian masyarakatnya masih menganut kepercayaan animisme yang dikenal dengan kepercayaan Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma. Suku toraja juga masih kental dengan kebudayaan - kebudayaan mereka serta kisah - kisah spiritualnya.

Konon, disebuah desa silanang, kabupaten Tana Toraja, ditemukan sebuah kuburan masal. Kuburan masal itu terletak disebuah gua, dan penduduk setempat mengatakan bahwa mayat yang disimpan disana tidak pernah membusuk dan berbau. Mayat - Mayat itu tidak diberi perlakuan khusus seperti proses pembalseman pada mumi mesir kuno. Menurut beberapa penelitian, hal ini dikarenakan ada semacam zat dari pohon disana yang bisa menyerap bau busuk tersebut dan juga menjauhkan dari serangga - serangga yang menyebabkan mayat cepat membusuk. Luar biasa...

Disamping kuburan yang ajaib itu, ada pula sebuah kisah mengenai mayat berjalan yang dikendalikan oleh seorang pawang. Mayat itu dikatakan berjalan layaknya orang yang masih hidup, hanya saja cara berjalannya agak terseok - seok. Mayat itu dikendalikan dengan tujuan untuk menuntunnya kembali ke tujuan akhirnya, yaitu rumahnya sendiri. Diceritakan dahulu orang Toraja senang menjelajahi daerah -  daerah pegunungan. Mereka tidak menggunakan alat transportasi apapun ketika menjelajah.  Dalam penjelajahan  yang berat itu, beberapa orang tidak kuat untuk melanjutkan lagi dan jatuh sakit. Karena bekal dan obat - obatan yang dibawa sangat minim, anggota mereka yang sakit tadi akhirnya meninggal.

Karena mustahil untuk meninggalkan mayat rekan mereka, dan akan sangat merepotkan bila harus membawa pulang jenazahnya, maka dengan suatu ritual gaib, mereka membangkitkan mayat tersebut dan mengendalikannya. Mereka menuntun mayat itu sampai ke rumahnya. Ada pantangan yang tidak boleh dilakukan selama mayat itu belum sampai di rumahya, mayat tidak boleh disentuh, jika dilakukan, maka mantra yang ada pada sang mayat akan hilang.

Akan tetapi, dari semua artikel yang memuat berita tentang kisah ini, kami hanya menemukan foto yang menunjukkan seseorang sedang memegang tangan orang yang diduga telah meninggal. Gambarnya memang menyeramkan, tapi anehnya tak banyak foto yang beredar di internet mengenai kisah mayat berjalan ini.Akan tetapi, dari semua artikel yang memuat berita tentang kisah ini, kami hanya menemukan foto yang menunjukkan seseorang sedang memegang tangan orang yang diduga telah meninggal. Gambarnya memang menyeramkan, tapi anehnya tak banyak foto yang beredar di internet mengenai kisah mayat berjalan ini.

Jika memang mayat berjalan ini benar - benar ada, seharusnya foto yang tersedia di internet lebih banyak lagi, ataukah memang ada peraturan yang melarang hal ini untuk diabadikan lewat foto? Atau ada alasan lainnya? Sebenarnya, kami pun juga belum bisa memastikan apakah kisah ini HOAX atau memang ini adalah aktifitas gaib yang benar terjadi.

Walking Dead Zombie in Real World
Upacara kematian Tana Toraja
Tana Toraja memiliki tradisi upacara pemakaman yang rumit. Upacara yang disebut dengan Rambu Solo ini adalah sebuah upacara pemakaman secara adat yang mengharuskan pihak keluarga mengadakan sebuah pesta sebagai penghormatan terakhir bagi sang mendiang.

Upacara Rambu Solo ini dikatakan upacara yang rumit karena memiliki sejumlah tingkatan sesuai dengan status sosial mendiang dan keluarganya. Biasanya jenazah tadi disertai pula dengan patung yang menggambarkan diri sang mendiang. Patung ini disebut tau - tau. Kemudian, pada prosesi terakhir, mayat tadi dibawa ke tebing dan diletakkan di dinding tebing begitu saja. Dan ajaibnya, seperti sepenggal kisah diatas, mayat yang diletakkan di dinding itu tidak mengeluarkan bau busuk.Upacara Rambu Solo ini dikatakan upacara yang rumit karena memiliki sejumlah tingkatan sesuai dengan status sosial mendiang dan keluarganya. 


Biasanya jenazah tadi disertai pula dengan patung yang menggambarkan diri sang mendiang. Patung ini disebut tau - tau. Kemudian, pada prosesi terakhir, mayat tadi dibawa ke tebing dan diletakkan di dinding tebing begitu saja. Dan ajaibnya, seperti sepenggal kisah diatas, mayat yang diletakkan di dinding itu tidak mengeluarkan bau busuk. 
Menurut ajaran Aluk Todolo (kepercayaan masyarakat setempat), rumah adat toraja yang bernama Tongkonan itu mempunyai makna khusus. Menurut mereka, manusia yang hidup maupun yang telah meninggal itu sama saja. Jika masyarakat yang masih hidup berkumpul di dalam rumah mereka, yaitu Tongkonan, maka mereka yang telah meninggal berkumpul di tempat yang khusus dibuat sebagai "pasangan" Tongkonan yang disebut Liang.

Ma Nene, Ritual Unik Suku Toraja.
Ma'nene, Tradisi Mengganti Pakaian Baru Mayat di Toraja
Tana Toraja di Sulawesi Selatan sudah lama terkenal dengan alam pegunungannya yang permai serta ritual adatnya yang unik. Yang paling tersohor, tentu saja, pesta Rambu Solo yang digelar menjelang pemakaman tokoh yang dihormati. Tiap tahun pesta yang berlangsung di beberapa tempat di Toraja ini senantiasa mengundang kedatangan ribuan wisatawan.
Selain Rambu Solo, sebenarnya ada satu ritual adat nan langka di Toraja, yakni Ma Nene, yakni ritual membersihkan dan mengganti busana jenazah leluhur. Ritual ini memang hanya dikenal masyarakat Baruppu di pedalaman Toraja Utara sebuah kabupaten baru. Biasanya, Ma Nene digelar tiap bulan Agustus.

Saat Ma Nene berlangsung, peti-peti mati para leluhur, tokoh dan orang tua, dikeluarkan dari makam-makam dan liang batu dan diletakkan di arena upacara. Di sana, sanak keluarga dan para kerabat sudah berkumpul. Secara perlahan, mereka mengeluarkan jenazah (baik yang masih utuh maupun yang tinggal tulang-belulang) dan mengganti busana yang melekat di tubuh jenazah dengan yang baru.
Mereka memperlakukan sang mayat seolah-olah masih hidup dan tetap menjadi bagian keluarga besar.
Ritual Ma Nene oleh masyarakat Baruppu dianggap sebagai wujud kecintaan mereka pada para leluhur, tokoh dan kerabat yang sudah meninggal dunia. Mereka tetap berharap, arwah leluhur menjaga mereka dari gangguan jahat, hama tanaman, juga kesialan hidup.

Dari mana asal muasal ritual Ma Nene di Baruppu? Kisah turun-temurun menyebutkan, pada zaman dahulu terdapatlah seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek. Saat sedang berburu di kawasan hutan pegunungan Balla, bukannya menemukan binatang hutan, ia malah menemukan jasad seseorang yang telah lama meninggal dunia. Mayat itu tergeletak di bawah pepohonan, telantar, tinggal tulang-belulang.

Merasa kasihan, Pong Rumasek kemudian merawat mayat itu semampunya. Dibungkusnya tulang-belulang itu dengan baju yang dipakainya, lalu diletakkan di areal yang lapang dan layak. Setelah itu, Pong Rumasek melanjutkan perburuannya.

Tak dinyana, semenjak kejadian itu, setiap kali Pong Rumasek berburu, ia selalu beroleh hasil yang besar. Binatang hutan seakan digiring ke dirinya. Bukan hanya itu, sesampainya di rumah, Pong Rumasek mendapati tanaman padi di sawahnya pun sudah menguning, bernas dan siap panen sebelum waktunya.

Pong Rumasek menganggap, segenap peruntungan itu diperolehnya berkat welas asih yang ditunjukkannya ketika merawat mayat tak bernama yang ditemukannya saat berburu.
Sejak itulah, Pong Rumasek dan masyarakat Baruppu memuliakan mayat para leluhur, tokoh dan kerabat dengan upacara Ma Nene.

Dalam ritual Ma Nene juga ada aturan tak tertulis yang mengikat warga. Misalnya, jika seorang istri atau suami meninggal dunia, maka pasangan yang ditinggal mati tak boleh kawin lagi sebelum mengadakan Ma Nene untuknya.

Ketika Ma Nene digelar, para perantau asal Baruppu yang bertebaran ke seantero negeri akan pulang kampung demi menghormati leluhurnya. Warga Baruppu percaya, jika Ma Nene tidak digelar maka leluhur juga akan luput menjaga mereka. Musibah akan melanda, penyakit akan menimpa warga, sawah dan kebun tak akan menghasilkan padi yang bernas dan tanaman yang subur.
Jenazah alamarhum Nene' Martha Bu'tu' (© ANTARA/Sahrul Manda Tiukupadang)
ANTARA/Sahrul Manda Tiukupadang
Jenazah alamarhum Nene' Martha Bu'tu' (© ANTARA/Sahrul Manda Tiukupadang)
Jenazah alamarhum Nene' Martha Bu'tu' (© ANTARA/Sahrul Manda Tiukupadang)
Jenazah alamarhum Nene' Martha Bu'tu' (© ANTARA/Sahrul Manda Tiukupadang)
STRINGER/INDONESIA//Reuters
Jenazah alamarhum Nene' Martha Bu'tu' (© ANTARA/Sahrul Manda Tiukupadang)Jenazah alamarhum Nene' Martha Bu'tu' (© ANTARA/Sahrul Manda Tiukupadang)
Jenazah alamarhum Nene' Martha Bu'tu' (© ANTARA/Sahrul Manda Tiukupadang)
Jenazah alamarhum Nene' Martha Bu'tu' (© ANTARA/Sahrul Manda Tiukupadang)
Jenazah alamarhum Nene' Martha Bu'tu' (© ANTARA/Sahrul Manda Tiukupadang)
Jenazah alamarhum Nene' Martha Bu'tu' (© ANTARA/Sahrul Manda Tiukupadang)
STRINGER/INDONESIA//Reuters
Jenazah alamarhum Nene' Martha Bu'tu' (© ANTARA/Sahrul Manda Tiukupadang)Jenazah alamarhum Nene' Martha Bu'tu' (© ANTARA/Sahrul Manda Tiukupadang)
Jenazah alamarhum Nene' Martha Bu'tu' (© ANTARA/Sahrul Manda Tiukupadang)
Jenazah alamarhum Nene' Martha Bu'tu' (© ANTARA/Sahrul Manda Tiukupadang)Jenazah alamarhum Nene' Martha Bu'tu' (© ANTARA/Sahrul Manda Tiukupadang)
STRINGER/INDONESIA//Reuters

Jika ingin mengunjungi kompleks batu megalit, maka berkunjunglah ke Bori’ yang masih berada di daerah Sesean. Ini adalah tempat pertama yang kami kunjungi  di hari terakhir sebelum kami balik ke makassar malam harinya. Di sini terdapat 102 batu megalit atau menhir.
Kompleks megalit ini nampaknya kurang terawat dengan baik. Banyak kotoran hewan disekitar menhir. Papan petunjuknya pun sudah roboh ketika kami masuk ke dalam.
Jika berjalan masuk ke dalam, kita akan menemui kuburan yang dipahat dalam batu. Yang unik dari kuburan itu adalah batunya. Batu yang digunakan untuk menyimpan mayat adalah batu alami dan lumayan besar ukurannya. Satu buah batu terdapat beberapa kuburan dan biasanya satu keluarga dikuburkan dalam batu yang sama dari nenek luhur sampai anak cucu keturunannya.
Disini juga terdapat Baby Grave (Kuburan Bayi) yang dikuburkan dalam pohon. Bayi yang meninggal sebelum giginya tumbuh di kuburkan didalam pohon Tarra’. Pohon Tarra’ dijadikan sebagai pekuburan karena pohon ini memiliki banyak getah yang dianggap sebagai pengganti air susu ibu. Dan masyarakat Toraja mengganggap seakan-akan bayi tersebut dikembalikan ke rahim ibunya. Dan berharap pengembalian bayi ke rahim ibunya akan menyelamatkan bayi – bayi yang lahir kemudian. Pohon Tarra’ yang dijadikan sebagai pekuburan berdiameter 80-100 bayi  cm bahkan sampai 300 cm. Bayi yang dikuburkan tidak dibungkus dengan kain ibarat bayi dalam rahim dan kemudian di tutup dengan ijuk pohon enau. Pemakaman seperti ini hanya dilakukan oleh orang Toraja penganut Aluk Todolo (kepercayaan kepada leluhur). Setelah puluhan tahun bayi tersebut akan menyatu dengan pohon.