Kamis, 09 Oktober 2014

JELATA

Tatkala langit sedang mendung
Ingin kutanya Tuhan
Hujan seperti apakah yang hendak turun
Jika tangis cukuplah banjir yang kami rasakan hari ini
Di jalan-jalan kusangsikan tubuhku
Rapat di antara butiran debu
Seolah di depan sana ada surga
Tersimpan di antara besi dan batubata

Di laci-laci meja
Kusaksikan kitab tua bersampul dusta
Menyimpan kisah para perempuan
Menangisi airsusu yang menjadi salsabila
Namun airsusu yang putih
Kian merah menyala-nyala
Membakar segala rasa manis
Hingga kering menjadi sesatunya sisa
Berkilau-kilau
Serupa neraka yang penuh cahaya

Aku tersungkur
Jatuh di rapatnya dosa
Memaki ribuan kali Sang Mahdi
Tanpa sekalipun memberinya doa
Keadilan semacam apakah yang kupahami
Jika api matahari tak sebanding matahati
Jika langkah tak lagi sejajar lidah

Tuhan ampuni hambaMu
Tubuh mulia ini telah menjadi hina
Sebab kehinaanku menatah tulangnya
Berulang kali Kauhidupkan yang mati
Kaubangunkan menara cahaya, bersama
lantang ayam mengumandangkan adzan, dan
Bayang-bayang yang kuseret di sepanjang jaman

Ya Tuhan
Masih pantaskah aku meminta
Melangitkan doa-doa meski aku durhaka
Sebab segala karuniaMu
Menjadi beban di seringkihnya imanku

(asw, Makale, 05-09-2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan kalimat yang sopan