Kamis, 09 Oktober 2014

MENGENTASKAN KEMISKINAN MELALUI GRAMEEN BANK

(M Yunus)
Oleh: Aris Setyo Wibowo 
Muhammad Yunus adalah seorang profesor di Bangladesh yang berhasil mendapatkan penghargaan nobel perdamaian karena konsep Grameen Bank (bank desa) yang dia terapkan untuk mengentaskan kemiskinan di Bangladesh. Diawali oleh penelitiannya bersama dengan para mahasiswa, Muhammad Yunus berhasil membuat sebuah sistem perbankan yang aplikatif dan sesuai untuk mengentaskan kemiskinan masyarakat di sana.
Bangladesh tidak memiliki pondasi ekonomi yang kuat pasca melepaskan diri dari India. Mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani dengan tingkat kemiskinan yang sangat tinggi. Keberadaan bank konvensional tidak cukup membantu karena --seperti dipahami secara umum-- bank konvensional hanya mau memberikan pinjaman kepada masyarakat yang memiliki kolateral (jaminan), padahal hal itu jelas tidak dimiliki oleh masyarakat miskin dan masyarakat sangat miskin.
Mulai aktif sejak tahun 1977 dengan jumlah nasabah sebanyak 500 orang, pada tahun akhir tahun 1982 mengalami penambahan jumlah nasabah sebanyak 28.000 dan bisa dipastikan semua nasabah itu merupakan masyarakat miskin dan termiskin di Bangladesh. Keberhasilan sistem yang diterapkan Muhammad Yunus menjadikan sistem Grameen Bank diadopsi lebih dari 100  negara lain.
Dalam penerapan sistem perbankan yang dilakukan, Grameen Bank menitik beratkan pada beberapa hal, yaitu solidaritas, kerjasama kelompok, pengembangan sumber daya manusia, kerja keras, kejujuran, dan ketepatan sasaran kredit yang disalurkan.
Lebih dari separuh masyarakat Bangladesh sebelum Grameen Bank beroperasi  termasuk dalam kategori sangat miskin. Bahkan pada saat itu (1976) masyarakat di sana masih banyak yang buta huruf sehingga tidak memahami berbagai persyaratan rumit yang harus dipenuhi ketika ingin mengajukan kredit kepada bank konvensional yang ada. Kondisi semacam itu saat ini sudah sangat jarang terlihat di Bangladesh.
Muhammad Yunus bukanlah orang kaya raya yang mendermakan semua hartanya untuk diberikan secara cuma-cuma kepada masyarakat. Ketika memulai proyek awal Grameen Bank, Muhammad Yunus harus mengajukan pinjaman sebesar 10.000 taka dari Janata Bank. Selanjutnya Muhammad Yunus menggunakan dana itu sebagai modal pemberian kredit kepada masyarakat miskin.
Penyaluran dana yang diberikan Muhammad Yunus melalui Grameen Bank tidak hanya berhenti pada proses penyerahan dana, tetapi sejak proses seleksi calon nasabah hingga penyelesaian pengembalian kredit selalu dilakukan secara hati-hati, cermat, penuh pengawasan, disertai bimbingan dan penanaman nilai-nilai moral yang menjadi pondasi Grameen bank. Hasil kerja Grameen Bank yang bertolak-belakang dengan sistem yang ada di bank konvensional selama ini ternyata membuahkan hasil dan mampu mementahkan stigma mengenai masyarakat miskin yang dianggap tidak memiliki kemampuan untuk mengembalikan kredit.
Menurut Muhammad Yunus, masyarakat miskin justru lebih bisa dipercaya mampu mengembalikan kredit dalam jumlah yang ditentukan setelah melalui analisa yang cermat, daripada masyarakt kelas menengah ke atas yang selama ini seringkali menjadi penyebab terjadinya kredit macet dalam jumlah sangat besar sehingga mempengaruhi perekonomian secara makro. Pemberian kredit yang dilakukan Grameen Bank dilakukan melalui beberapa tahap. Tahap pertama melalui penelitian kondisi sosio-kultural masyarakat di suatu desa, dilanjutkan dengan penentuan calon nasabah, pemberian penyuluhan kepada nasabah sehingga terdapat kesamaan visi terhadap rencana penyaluran kreditnya, pembuatan kelompok nasabah yang akan saling bahu-membahu memikul tanggung jawab, serta bimbingan usaha yang dilakukan setiap 1 minggu sekali bersamaan dengan penarikan kredit dari nasabah.
Beragam kesulitan nasabah akan diselesaikan bersama-sama oleh kelompoknya bersama dengan penyuluh Grameen bank dan setiap anggota ikut mengemban tugas untuk berperan aktif sehingga beban anggota kelompoknya dalam mengembalikan kredit dapat dilakukan tepat waktu. Sistem itu secara langsung nantinya juga akan mempengaruhi anggota lain karena kredit disalurkan secara bertahap.
Setiap kelompok terdiri dari 5-8 orang. Tahap pertama penyaluran kredit diberikan untuk 2 anggota kelompok. Setelah 1 atau2 bulan penerima kredit itu lancar membayar cicilan, maka anggota ke 3 dan 4 baru dapat menerima kredit. Begitu seterusnya sampai seluruh anggota dapat memperoleh kredit.
Konsentrasi utama penyaluran kredit adalah kredit usaha mandiri, kredit pembangunan rumah, dan kredit untuk kebutuhan pendidikan. Tidak jarang Grameen Bank menarik bunga sebesar 0% untuk kredit tertentu, atau dengan kata lain kredit tersebut benar-benar tanpa bunga.
Hal semacam itu bisa dilakukan karena proses operional usaha yang paling pokok bisa dilakukan di kantor pusat saja, sedangkan untuk cakupan yang lebih kecil bisa langsung dilakukan oleh masyarakat yang berperan sebagai nasabah sekaligus pengelola. Dalam setiap kelompok dipilih seorang ketua kelompok yang akan mengorganisir anggotanya. Melalui metode tersebut, Grameen Bank tidak membutuhkan pegawai dalam jumlah yang sangat banyak sehingga dapat menekan biaya operasi mereka.
Melihat kenyataan bahwa sistem ekonomi pasar yang berjalan selama ini tidak berpihak kepada rakyat kecil (masyarakat miskin), metode Grameen Bank ini bisa diadopsi. Sebenarnya Indonesia pernah memiliki perangkat untuk melakukan hal semacam itu andaikata Koperasi Unit Desa (KUD) yang dulu sempat ada dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Untuk mengentaskan kemiskinan masyarakat, kita tidak dapat menggantungkan diri pada sistem ekonomi kapitalis yang justru hanya menguntungkan masyarakat kelas menengah ke atas saja karena mereka memiliki sumber daya ekonomi yang kuat, tetapi kita juga harus berani melakukan terobosan langsung untuk menembus dominasi sistem kapitalis tersebut sehingga jurang perekonomian antar kelas masyarakat dapat dikurangi.
(Penulis)
Agar sistem Grameen Bank bisa diterapkan di Sulawesi khususnya, atau di Indonesia pada umumnya, memang masih dibutuhkan penelitian mendalam sehingga kita tidak semata-mata menduplikasi metode yang telah diterapkan di Bangladesh, tetapi juga perlu disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat kita sendiri. Dalam hal itu, sama halnya dengan Prof. Muhammad Yunus yang merupakan pakar pendidikan, para mahasiswa, dosen, dan pakar ekonomi di negeri ini seharusnya tergugah untuk menunjukan rasa pengabdian mereka kepada masyarakat dan tidak hanya terbelenggu oleh sistem ekonomi yang sudah berjalan saat ini saja. (asw)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan kalimat yang sopan