Minggu, 09 November 2014

Sajak Dinasti Tang yang Cemerlang

Dinasti Tang adalah satu zaman yang penting dalam sejarah Tiongkok, di mana ekonominya makmur, masyarakatnya tenteram dan kebudayaannya mencapai hasil yang cemerlang. Khususnya pada masa Dinasti Tang, penciptaan sajak klasik mencapai masa emasnya dalam sejarah, dan menjadi salah satu isi utama kegiatan sosial dan kebudayaan pada masaDinasti Tang. Oleh karena itu, isi ujian negara pada masa itu juga berubah dari makalah menjadi sajak atau syair. Dalam Analekta Sajak Tang, salah satu kitab sastra klasik yang beredar sejak zaman kuno, tercantum hampir 50.000 sajak hasil karya 2.300 lebih penyair.
Perkembangan sajak masa Dinasti Tang secara kasar terbagi dalam empat tahap, yaitu Tang Awal, Tang Makmur, Tang Tengah dan Tang Akhir.
Pada masa Dinasti Tang Awal (tahun 618-712 Masehi), empat penyair yang paling terkenal pada masa awal Dinasti Tang, yaitu Wang Bo, Yang Jiong, Lu Zhaolin dan Luo Binwang, yang dijuluki sebagai “Empat Bujangga” masa itu berangsur-angsur membentuk irama puisi yang tetap sehingga penciptaan sajak pada masa Dinasti Tang berwajah baru. Berkat upayanya, tema dan isi sajak pada waktu itu berangsur-angsur berubah dari kehidupan mewah istana menjadi kehidupan rakyat, dengan gayanya pun berubah dari mengutamakan kehalusan dan kelemahan menjadi mengutamakan kesederahanaan, dan rasa gembira yang memberi kesan serba baru. Chen Zi’ang adalah penyair yang paling terkemuka pada masa awal Dinasti Tang. Ia menganjurkan pemulihan tradisi unggul sajak dalam mencerminkan kehidupan nyata. Sajak karya Chen Zi’ang bergaya gagah berani, dan sederhana bahasanya, dan merintis jalan bagi perkembangan puisi pada masa Dinasti Tang.
Masa antara tahun 712 dan 762 adalah masa makmur Dinasti Tang, di mana penciptaan sajak pun memasuki masa emasnya. Karya sajak yang diciptakan pada waktu itu juga dianggap bernilai paling tinggi. Pada masa itu, sajak bertema luas dengan aneka ragam gayanya. Ada penyair yang menyenandungkan alam dan mendambakan kehidupan di daerah terpencil nan jauh, ada juga yang menyenandungkan pahlawan, tapi ada juga yang mabuk dalam kekecewaan terhadap kehidupan. Pendek kata, penyair-penyair pada waktu itu dapat menciptakan karyanya secara bebas dalam suasana yang romantis, dan bersama-sama membina “gejala makmur Dinasti Tang”, yang memberikan kesan mendalam terhadap masa kemudian.
Sedangkan penyair yang terkenal pada masa tengah Dinasti Tang (tahun 762 sampai 827) adalah Bai Juyi, Yuan Zhen dan Li He. Sajak Bai Juyi terkenal dengan isi yang menyindir gejala buruk, seperti perang, kekuasaan dan sebagainya. Selain itu, Bai Juyi pandai memakai bahasa yang sederhana untuk mengekspresikan isi yang mengandung makna mendalam. Bahasa sajaknya lancar dan mudah dimengerti, dan sangat mengharukan pembaca, sehingga ia menjadi salah seorang penyair yang paling populer di kalangan rakyat.
Penyair Li He sangat pendek umurnya karena sudah meninggal dunia pada umur 20 tahun lebih. Ia hidup sengsara dan karirnya sebagai pejabat pun tidak mulus. Namun isi sajaknya sangat kaya akan imajinasi, bahasanya indah dan susunannya halus, dan isinya penuh diwarnai romantisme dan estetisisme, serta emosi yang sedih.
Masa antara tahun 827 dan 859 merupakan masa akhir Dinasti Tang, dan dengan Li Shangyin dan Du Mu, dua penyair sebagai wakil sastrawan pada waktu itu. Sajak Du Mu menggabungkan gaya kesederhanaan dan ketegasan, karena ini sangat cocok untuk mengekspresikan ambisi dan inspirasi politik yang tersembunyi dalam lubuk hatinya. Sedangkan Li Shangyin dengan karya syairnya mengekspresikan liku-liku yang dialaminya dalam karirnya sebagai pejabat pemerintah. Sajaknya menunjukkan nuansa sedih yang tebal. Mengenai sajaknya yang berjudul: Tak Berjudul masih terdapat perdebatan, yaitu apakah sajak itu termasuk karya asmara atau sajak yang mengandung isi politik tersembunyi, sampai sekarang masih belum dipastikan.

Du Fu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Du Fu
Dufu.jpg
Tak ada gambar Du Fu yang dibuat pada masanya; ini adalah impresi pelukis di kemudian hari
Lahir12 Februari 712
Meninggal770
PekerjaanPenyair

Du Fu (Hanzi: 杜甫), 12 Februari712-770, merupakan seorang penyair China yang terkenal pada masa dinasti Tang. Ia bernama lengkap Du Zimei (杜子美). Bersama dengan Li Bai ( Li Po), Ia sering kali disebut sebagai penyair terbesar China. Ambisinya yang terbesar adalah untuk membantu negerinya dengan menjadi pejabat negara yang sukses, namun Ia tidak mampu untuk memenuhi ambisinya tersebut. Hidupnya, seperti juga seluruh negeri pada saat itu, hancur karena pemberontakan An Lu Shan yang terjadi pada tahun 755, dan 15 tahun terakhir dari masa hidupnya penuh dengan pergolakan politik.
Walaupun pada awalnya ia tidak terlalu dikenal, namun karya-karyanya membawa pengaruh yang besar bagi budaya China danJepang. Ia disebut sebagai penyair sejarah dan penyair bijak oleh para kritikus China. Di dunia barat karya-karyanya disetarakan dengan ShakespeareHugoHorace, dan penyair besar lainnya.
Ia terkenal dengan karyanya “Tiga Pembesar” dan “Tiga Perpisahan”Masa hidup[sunting | sunting sumber]
Apa yang kita ketahui dari kehidupan Du Fu didapat dari puisi-puisinya. Seperti kebanyakan penyair China lainnya, Du Fu berasal dari keluarga bangsawan yang telah jatuh miskin. Ia lahir pada tahun 712 di daerah sekitar Luoyang, provinsi Henan sekarang.
Tiongkok pada masa Du Fu
Tidak lama setelah ia lahir, ibunya meninggal, Du Fu pun dibesarkan oleh bibinya. Ia mempunyai seorang kakak lelaki yang meninggal dunia ketika masih muda. Ia juga mempunyai 3 saudara tiri laki-laki dan seorang saudara tiri perempuan yang sering disebutkannya dalam puisi-puisi karangannya, meskipun ia tak pernah menyebut-nyebut ibu tirinya.
Sebagai seorang anak sarjana dan pejabat kecil, masa kecilnya dihabiskan dengan pendidikan standar bagi calon pejabat negara, yaitu mempelajari dan menghafalkan tulisan-tulisan klasik Kong Hu Cu tentang filsafat sejarah dan puisi. Du Fu mengatakan bahwa, ia telah membuat beberapa puisi yang baik pada masa remajanya, namun puisi-puisi ini hilang.
Awal tahun 730-an, Du Fu mengunjungi daerah Jiangsu dan Zhejiang. Puisi-puisi awalnya yang masih tertinggal melukiskan suatu pertandingan puisi, diperkirakan dari periode ini, yaitu sekitar tahun 735 M. Pada tahun itu juga ia pergi ke Chang'an untuk mengikuti ujian kenegaraan, namun ia gagal. Hung menyimpulkan bahwa alasan kegagalan Du Fu adalah karena gaya prosanya pada masa itu terlalu dangkal dan tidak jelas, sementara Chou beranggapan bahwa kegagalan Du Fu dalam memelihara hubungan dan jaringan di ibukota merupakan alasan utama tidak berhasilnya Du Fu dalam ujian negara. Setelah kegagalan ini Du Fu kembali melakukan perjalanan dan mengunjungi Shandong danHebei.
Sekitar tahun 740 M ayah Du Fu meninggal. Dengan kepergian ayahnya ia bisa mendapatkan kedudukan di pemerintah, namun Ia memberikan jabatan tersebut kepada salah satu saudara tirinya. Ia menghabiskan 4 tahun tinggal didaerah Luoyang, mengerjakan kewajibannya dalam urusan keluarga.
Pada musim semi tahun 744 M, Du Fu bertemu dengan Li Bai untuk pertama kalinya, kedua penyair ini membentuk suatu hubungan pertemanan, walaupun hanya dari satu sisi. Du Fu lebih muda beberapa tahun dari Li Bai, yang pada saat itu sudah menjadi seorang penyair yang terkenal. Ada sekitar 12 puisi mengenai dan kepada Li Bai dari Du Fu, tapi hanya dari sisi Du Fu saja. Mereka bertemu sekali lagi pada tahun 745 M.
Pada Tahun 746 M, Du Fu pindah ke ibukota untuk membangkitkan kembali kariernya. Pada tahun berikutnya Ia mengikuti ujian negaranya yang kedua, namun semua kandidat tidak diluluskan oleh perdana menteri (sebagai aksi pencegahan adanya rival dari kadidat yang lulus). Setelah itu ia tidak pernah lagi mencoba untuk ikut ujian negara.
Ia menikah sekitar tahun 752 M, dan pada tahun 757 M Ia mempunyai lima orang anak, tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan, namun salah satu anak laki-lakinya meninggal pada saat balita. Sejak tahun 754 M Ia mulai mempunyai masalah dengan pernapasannya, pertama dari sekian banyak penyakit yang mengikutinya sepanjang masa hidupnya. Pada tahun 755 ia mendapatkan sebuah posisi kecil di kantor komandan di istana putra mahkota, namun belum saja ia mulai bekerja pergolakan politik pun terjadi.
Pemberontakan An Lu shan yang terjadi pada tahun 755 M dan baru bisa dipadamkan 8 tahun kemudian, telah mengakibatkan perubahan yang drastis pada masyarakat China. Sensus pada tahun 754 M menunjukan populasi sebesar 52,9 juta jiwa, namun pada tahun 764 M berkurang sampai dengan 16,9 juta jiwa. Pada periode inilah Du Fu menjalani hidup yang tidak pasti karena adanya perang yang juga mengakibatkan kelaparan dan goncangan politik. Namun pada periode ini pulalah Du Fu mengembangkan dirinya sebagai penyair, banyak puisi-puisinya yang terkenal ditulisnya pada periode ini.
Pada masa perang ini Du Fu tetap setia pada kekaisaran, Ia diberi jabatan pada tahun 757 M, tetapi bukan jabatan penting. Tahun 760 M, Ia pindah ke Chengdu, dan menghabiskan 4 tahun disana. Walaupun hidup dengan sangat kekurangan namun hari-harinya di Chengdu merupakan masa yang paling bahagia.
Pada tahun 765 M, Du Fu berusaha kembali ke Luoyang, daerah kelahirannya, yang sudah direbut kembali oleh pemerintah. Karena kondisinya yang lemah dan penyakitan, Du Fu dan keluarganya menetap di Kuizhou selama dua tahun, periode ini merupakan masa terakhir bagi puisi-puisi Du Fu, Ia menulis 400 puisi. Maret, 768 M Ia dan keluarganya melanjutkan perjalanan, Du Fu meninggal pada tahun 770 M, saat Ia berusia 59 tahun di Tanzhou ( Sekarang Changsha).

Karya[sunting | sunting sumber]

Bagian dari puisi Du Fu "Tentang Kunjungan ke Kuil Laozi", seperti yang disalin oleh seorang penuliskaligrafi abad ke-16.
Karya-karya Du Fu terpusat pada alur sejarah, pengaruh moral dan keahliannya dalan menulis.
Sejak zaman dinasti Song, Du Fu sering disebut sebagai “Penyair Sejarah” (诗史shī shǐ). Puisi-puisinya mengomentari taktik militer atau kesuksesan atau kegaggalan dari pemerintah, juga puisi nasihat yang ditulisnya untuk kaisar. Secara tidak langsung, ia menulis mengenai pengaruh ketidakstabilan politik yang terjadi pada saat itu kepada dirinya dan juga rakyat China lainya. Komentar politik Du Fu lebih berdasarkan emosi, bukan kalkulasi: anjuran-anjurannya telah diparafrasekan demikian, "Marilah kita mengurangi sikap mementingkan diri sendiri, marilah kita melakukan apa yang harus kita lakukan". (Chou hlm. 16) Namun, karena pandangan-pandangannya sulit dibantah, pemahamannya tentang apa yang baik yang dinyatakannya dengan kuat memungkinkan ia diangkat sebagai tokoh utama dalam sejarah puisi Tiongkok.

Pengaruh[sunting | sunting sumber]

Pada masa hidupnya karya-karya Du Fu tidak banyak dikenal dan lebih banyak tidak dihiraukan. Namun karya-karya mulai dinikmati pada abad ke 9 M, setelah memasuki abad ke 11, ketika masa dinasti song selatan, puisi dan tulisan karya Du Fu mencapai puncaknya. Perkembangan neo-konfusianisme pada masa itu juga memengaruhi kepopuleran karya-karya Du Fu. Ia dianggap sebagai contoh puitis dari neo-konfusianisme.
kemampuannya untuk merangkul dua oposisi, kaum konservatif yang tertarik dengan kesetiaannya terhadap negara dan kaum radikal yang tertarik dengan perhatiannya pada kaum miskin, juga membantu menyebarkan pengaruhnya di masyarakta China pada masa itu.
Pada masa Republik Rakyat China, karya Du Fu yang lebih banyak menceritakan tentang penderitaan rakyat dan tentang kesetiaan pada negara, juga dalam menggunakan bahasa rakyat menjadi salah satu daya tarik masyarakat China

sumber: http://chunghwahweekoan.wordpress.com/chinese-literature/

1 komentar:

  1. Tulisan anda sangat membantu pekerjaan tugas kuliah saya. Terimakasih penulis 💕💕

    BalasHapus

silahkan berkomentar dengan kalimat yang sopan