Rabu, 12 November 2014

Demak: Tiga Situs Punden Berundak dari Batu Bata Kuno

Hanya dalam hitungan hari, tiga tempat situs sisa bangunan yang tersusun dari tumpukan batu bata kuno dan bertingkat mirip “Punden Berundak”, yang diduga merupakan salah satu situs bersejarah, ditemukan di tiga desa yaitu:  Desa PilangrejoDesa Jatirogo dan Desa Mrisen di Demak, Jawa Tengah.
Lokasi situs Batu Bata di Demak, Jateng

1. Lokasi Penemuan: Desa Pilangrejo

Di Desa Pilangrejo, Kecamatan Wonosalam ditemukan tumpukan batu yang di duga merupakan situs bersejarah. Meski masih membutuhkan penelusuran arkeologi, penemuan itu menarik perhatian warga.
“Penemuan terjadi ketika warga kami, Sugiyanto menggali tanah di sawah milik Sutarjan,” kata Kades  Pilangrejo, Tugiman. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Demak, Senin (8/10/2012) pagi telah mengirim stafnya Widodo untuk menyurvei lokasi bata di Desa Pilangrejo. Dia mengambil foto sebagai bukti keberadaan bata itu.
Meski belum jelas kepastiannya, penemuan benda yang diduga bersejarah di areal persawahan tersebut, menggemparkan warga. Kepala Desa Pilangrejo, Tugiman mengatakan, batu bata bertingkat di areal pesawahan milik Sutarjan, pertama kali ditemukan oleh Sugiyanto pada hari Jumat (5/10/2012) lalu.
Saat itu, Sugiyanto hendak mengambil tanah di sawah milik Sutarjan, untuk keperluan menguruk pekarangan rumahnya. Ketika mengayunkan cangkulnya, ternyata ujung cangkul membentur benda keras, karena penasaran ia pun menggalinya lebih dalam lagi, dan ternyata menemukan tumpukan batu bata.
Punden Berundak di Desa Pilangrejo, Kecamatan Wonosalam, Demak
“Setelah digali satu meter, ternyata ditemukan tumpukan batu bata yang tersusun rapi mirip punden berundak”, terang Tugiman , Senin (8/10/2012).
Mendengar adanya penemuan itu, warga berduyun-duyun datang ke lokasi untuk melihatnya. Bahkan ada sebagian warga yang mengambilnya untuk dibawa pulang.
Sebagai antisipasi agar situs bangunan tidak rusak dan berubah bentuk, kini pemerintah desa setempat memagari lokasi penemuan itu dan meminta warga menghentikan penggalian.
Selama ini, di Desa Pilangrejo belum pernah ditemukan benda yang mirip dengan penemuan batu bata ini. Namun pada tahun 2008 lalu, salah seorang warga pernah menemukan guci kuno pada kedalaman tiga meter saat warga membuat sumur di lokasi yang tidak jauh dari penemuan punden berundak ini.
“Menurut keterangan para sesepuh desa, dari jaman nenek moyang hingga saat ini, belum pernah mendengar maupun ada warga yang mendirikan bangunan di tempat penemuan pundek berundak ini,” jelas Tugiman.
Sementara itu, usai meninjau lokasi, Ahmad Widodo, staf Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kabupaten Demak, mengaku tidak berani memastikan apakah penemuan tumpukan batu bata di Desa pilangrejo ini merupakan peninggalan sejarah. Ia berkilah, yang berhak menentukannya adalah Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng.
Namun, jika melihat bentuknya, panjang dan tebal batu bata, ciri-cirinya persis dengan batu bata yang ada di Trowulan, Jawa Timur. “Batu bata ini tebalnya sekitar 7-10 cm, diperkirakan ada sebelum jaman kerajaan Demak, atau sebelum abad 15,” kata Ahmad Widodo.

2. Lokasi Penemuan: Desa Jatirogo

Ditemukan Tumpukan Bata Merah Kuno Yang Diduga Situs Bersejarah
Fenomena keberadaan bata merah kuno yang diduga berasal pada zaman pra sejarah muncul lagi di Demak. Seorang petani tak sengaja menemukan tumpukan bata merah ketika menggali sawah. Dia merasa heran dengan bentuk bata dengan ukuran 45 cm x 25 cm setebal10 cm.Bata merah itu terlihat kering dan enteng.
“Saat itu saya akan menggali sumur resapan di lahan sawah bengkok milik Pak Lurah,” ungkap petani penggarap sawah di Desa Jatirogo Kecamatan Bonang, Bukhori (50), kemarin. Dirinya  secara tak sengaja menemukan tumpukan bata merah ketika menggali sumur resapan untuk keperluan tanam.
Kali pertama bata merah ditemukan terpendam sekitar satu meter di bawah permukaan sawah. Ketika mencangkul Bukhori sempat memecahkan bata itu menjadi dua bagian.
Situs di desa Jatirogo, Demak, tampak warga dan Kades Dusun Jetak dilokasi temuan batu bata kuno di persawahan (harsem-sukma)
Bata merah yang diketemukan berbeda dibanding bentuk bata merah pada umumnya. Bata ini berbentuk besar, berwarna merah muda dan tertata seperti untuk sebuah bangunan. Karena takut, penggarap bengkok kades ini, segara melapor ke pemerintah desa setempat.
Mendapati temuan itu Kades H  Suyudi dan Sekdes H A  Baedowi segera bergegas menuju lokasi. Kemudian mengumpulkan temuan itu dalam satu lokasi. Sebelumnya mereka juga meyakini dahulu lokasi itu merupakan situs bersejarah.
“Bata ini aneh, lebih besar dari buatan sekarang, warna bata tak kusam meski terpendam di dalam tanah, justru merah menyala,” ungkap Suyudi. Dirinya juga tidak tahu bata itu terbuat dari tanah liat dari daerah mana.
Beberapa sesepuh desa pernah bercerita, semula wilayah desanya merupakan pesisir pantai, terbukti tanah di Desa Jatirogo banyak dijumpai kulit kerang. Sejumlah orang dari daerah jauh datang Demak, selain ingin berdagang, daerah ini dikenal menjadi ajang pertemuan budaya Hindu dan Islam, seiring berdirinya Kerajaan Majapahit Islam yaitu Kasultanan Demak Demak Bintoro, dan dakwah para Walisongo.
Namun Suyudi belum bisa memastikan kaitan antara temuan puluhan bata merah yang terserak itu, dengan lokasi pesisiran. Dia meminta perhatian instansi terkait untuk menyurvei temuan tersebut, kemungkinan bisa ditemukan situs bersejarah di desanya.
Menurut Baedowi, dulu juga pernah juga ditemukan bata merah serupa, yang diperkirakan pondasi bangunan. Lokasi tersebut sekitar 200 meter dari lokasi temuan sekarang.
Karena jumlah bata merah hingga ribuan, warga mengambilnya untuk membangun masjid di  Dusun Jetak. Dan bangunan masjid itu hingga kini masih berdiri kokoh, dengan dinding bata merah dari lokasi situs Jatirogo.
Baedowi meyakini lokasi persawahan Desa Jatirogo memendam sebuah situs sejarah, keyakinan tersebut semakin kuat karena tak jauh dari penemuan bata merah terdapat makam Syekh Hasan Bakem yang diduga berusia ratusan tahun.
Diduga Menara Pengintai
Tak jauh dari lokasi situs bata merah di Dukuh Jetak Desa Jatirogo Kecamatan Bonang, ditemukan lagi keberadaan situs baru. Melihat luas situs diduga sebuah bangunan menara pengintai atau semacam mercusuar di pantai.
Setelah seorang petani penggarap, Bukhori (50), beberapa hari lalu menemukan tumpukan bata merah berukuran 45 cm x 25 cm saat menggali sawah bengkok milik Kepala Desa Jatirogo.
Setelah itu gantian Juki (50), warga Desa Jatirogo, menemukan tumpukan bata merah di dalam tanah sedalam satu meter. Keberadaan bata merah yang tertata rapi seperti tembok ini, ditemukan sejauh 5 meter dari lokasi temuan lama.
Situs di desa Jatirogo, Demak yang diduga menara pengintai. Tampak batu bata berserakan akibat sejumlah bata merah tersebut dicongkel oleh warga (harsem-sukma)
“Saat akan mamacul tanah, saya lihat bata merah, saya congkel ternyata banyak,” ungkap Juki. Karena kondisi tanah yang kering dan pecah-pecah, memudahkan Duki mencongkel tanah dan melihat bata merah tersebut.
Selanjutnya, Juki mencoba mencongkel bata merah tersebut, namun semakin bingung saat  di bawah bata merah itu masih ada bata lagi tertata seperti tembok.
Dia terus saja mencongkel namun beberapa tumpukan bata tak habis-habis, malah terlihat semakin dalam. Kondisi bata merah yang dicongkel seperti menempel disemen dengan bata lainnya. Akhirnya Juki berinisiatif menghentikan aktivitasnya dan segera melapor ke Kades Jatirogo.
Setelah menerima laporan, Kades Jatirogo H Suyudi tak bisa berkata apa-apa, semula dia berharap sawah bengkoknya segera bisa disiapkan untuk tanam, malah ditemukan situs. Terpaksa dirinya memerintahkan para penggarap sawahnya,untuk menghentikan sementara proses penggalian itu.
Buatan Sunan Demak?
Sabtu (13/10/2012) pagi, lokasi situs itu telah menarik perhatian warga, banyak orang sampai pelajar yang bersekolah dekat kawasan situs, menyempatkan untuk melihat temuan situs baru itu.
Bahkan Ketua Komisi B DPRD Demak HM Suradi dan anggota Komisi B Farodli hadir. Mereka ingin melihat langsung lokasi temuan. “Bila dilihat kondisinya, situs ini semacam bangunan menara pengintai,” ucap Suradi.
Dari beberapa batu merah yang menempel itu, dilekatkan bukan dengan semen, melainkan dengan putih telur dan kotoran kerbau. Bila merunut riwayat sejarah di Kecamatan Bonang merupakan pantai, dengan muara sungai Tuntang. Saat itu pantai masih di sekitar Desa Tridonorejo Kecamatan Bonang, namun perkembangannya muncul tanah timbul yang mengubur menara itu.
Peta lokasi Kabupaten Demak Jawa Tengah (warna merah)
Dalam sejarah perjuangan Adipati Unus menyerang Batavia, di Kasultanan Demak Bintoro telah memiliki dua pelabuhan, yaitu pelabuhan niaga yang berada di sekitar Kecamatan Bonang, dan pelabuhan militer di Jepara.
Dan menara itu berfungsi ganda, selain sebagai pengintai sekaligus menjadi mercusuar, sebagai tanda untuk lalulintas laut. Namun menara ini tak setinggi dengan menara suar sekarang.
Ketika melihat ukuran dan warna merah menyala dari bata itu, terlihat ada kemiripan dengan bata yang berada di Menara Kudus dekat Makam Sunan Kudus. Dimungkinkan juga yang membangun menara itu adalah Sunan Kudus.
Sebab di lokasi tetangga Desa Jatirogo, yaitu Dukuh Bener Desa Tridonorejo, pernah berdiri masjid kuno dengan mustoko dari tanah. Warga setempat meyakini mustoko itu buatan Sunan Kudus.
Tumpukan bata merah yang berukuran besar itu, sangat banyak, namun sayang beberapa warga cenderung merusak, mereka mencongkeli secara sembarangan. Sebagian malah membawa pulang bata itu untuk tungku kompor di rumahnya.
Disayangkan juga dari kepolisian tak memasang police line sebagai pembatas agar warga setempat tak merusak situs tersebut.

3. Lokasi Penemuan: Desa Mrisen

Ditemukan Situs di Mrisen Yang Mirip Situs Jatirogo
Setelah geger  temuan situs di Desa Jatirogo Kecamatan Bonang, ganti di wilayah persawahan Desa Mrisen, Kecamatan Wonosalam ditemukan semacam bangunan diduga situs bersejarah.
Situs ditemukan di galian sedalam satu meter dari lahan sawah milik H Lawi, warga RT 01/RW 01 Desa Mrisen. Tekstur situs masih sama dengan temuan di wilayah lain, terdapat bata merah yang tertata miring dan rapi membentuk anak tangga.
Warga Desa Mrisen, Demak menggali situs untuk mengetahui bentuknya (harsem-sukma)
Kali pertama situs ditemukan oleh H Lawi. Menurut dia berasal dari pesan sebuah mimpi yang ditemui oleh seseorang, berpesan agar menggali lahan sawahnya, ada sebuah barang yang harus diambil dan dilestarikan.
“Dalam mimpi itu saya dipesan disuruh menggali, dan memberikan hasil temuan nanti ke Dinas Pariwisata atau museum untuk dilestarikan,” ungkap H Lawi, Selasa (16/10/2012). Dalam mimpi, seseorang yang menemuinya mengatakan ”ono barang dang diduduk lan direkso kanthi apik (ada barang segera digali dan dilestarikan – pen).
Sukamto alias Cebleng warga Mrisen menambahkan, setelah H Lawi bermimpi, selanjutnya disampaikan kepada dirinya, sehingga dia bersama pemuda lain mencoba mencari lokasi itu untuk membuktikan kebenaran dari mimpi tersebut.
“Dan H Lawi yang menunjukkan lokasi pertama untuk digali, setelah itu kami meneruskannya, dan menemukan bata merah yang tertata ini,” ungkapnya. Penemuan situs tersebut banyak mengundang perhatian warga, mereka berbondong-bondong ingin menyaksikan hasil penemuan itu. Beberapa warga yang penasaran atas temuan itu, turut berusaha menggali lokasi situs dengan hati-hati. Sejumlah anak-anak dan ibu-ibu turut menyemangati para pekerja itu.
Sementara bata merah yang ditemukan di Desa Mrisen ada kemiripan dengan bata merah dari Desa Jatirogo, dengan ukuran yang besar. Di galian pertama sudah menemukan semacam anak tangga yang tertata miring mirip dengan arsitektur Majapahitan.
Kepala Desa Mrisen Muhamad Kusnin mengatakan, seusai warganya melapor atas temuan situs, dirinya segera mengimbau jangan merusak keberadaan situs tersebut. “Lalu saya laporkan hal ini ke Polsek agar ada pengamanan,” ungkapnya.
Keberadaan situs terus di gali oleh warga, beberapa bata merah ada yang pecah karena terkena linggis atau pacul, bahkan di sekitar temuan terdapat sejenis keramik namun sudah pecah. Dan warga terus berhati-hati memilah tanah dan situs. Kendati tidak diberi garis police line namun kesadaran warga cukup tinggi, terbukti tak satupun tertarik untuk membawa bata tersebut.
Menanggapi soal temuan situs, Kepala Dinas Pariwisata Demak H Ridwan mengatakan, bila dinasnya sebatas hanya melaporkannya ke Badan Purbakala Jawa Tengah. Diharapkan laporan tersebut segera ditindak lanjuti untuk disurvei.
Situs Mrisen Mirip Lokasi Pemandian Raja
Kondisi situs di Desa Mrisen masih terus digali, terakhir muncul beberapa tangga dan sebuah sumur, mirip lokasi pemandian raja-raja pada zaman Majapahit.
Setelah situs ditemukan Selasa (16/10/2012) pagi dilahan persawahan milik H Lawi, warga terus berusaha menggali lokasi situs, untuk mencari keutuhan bangunan dari situs tersebut. Dalam menggali warga sangat hati-hati tak mau merusak bentuk asli bangunan yang ditemukan.
Hingga kini sudah ditemukan enam anak tangga di sebelah selatan dengan lantai bata merah yang berukuran besar, mirip bata dari Menara Kudus. Bata tersebut ditata rapi dengan tatanan membujur, namun dua anak tangga lagi di sebelah utara bata terlihat tertata berdiri secara rapi.
Di antara tatanan bata merah tersebut ditemukan juga tatanan bata melingkar mirip sumur, namun warga belum menggali sumur itu hingga dalam. “Bila dilihat posisinya lokasi situs mirip tempat pemandian raja atau putri,” ungkap Sukamto alias Cebleng warga Mrisen, Rabu (17/10/2012).
Warga Desa Mrisen, Wonosalam, Demak mencoba menyisir bentuk situs yang ditemukan (harsem-sukma)
Pihaknya bersama warga lain terus berusaha menggali keberadaan situs tersebut hingga menemukan bentuk bangunan secara utuh. Sebagian warga yang menggali ada yang dibayar oleh pemilik lahan, sebagian melakukannya secara sukarela.
Sementara H Lawi terus bersikukuh lokasi situs yang ditemukan akan diserahkan kepada Dinas Pariwisata atau museum agar menjadi ajang pendidikan serta pelestarian peninggalan sejarah.
Penemuan situs ini banyak mengundang perhatian warga, bahkan warga dari luar desa banyaknya yang berdatangan untuk membuktikannya. Mereka berbondong-bondong ke sawah milik H Lawi melihat kondisi galian yang hampir menunjukkan bentuk bangunan.
“Dari getuk tular, saya mendengar ada situs, pulang kerja langsung lihat,” kata Sasono (39), warga Desa Kuncir Kecamatan Wonosalam. Dia sempat membandingkan situs Mrisen dengan kondisi temuan situs dari Dukuh Demung, Desa Pilangrejo, Kecamatan Wonosalam, bangunannya berbeda,  kemiripannya hanya pada bata merah sebagai bahan bangunan itu.
Kepala Dinas Pariwisata Demak Ridwan melalui Plt Kabid Budaya dan Kesenian Suwarti juga menyatakan sudah menerima laporan temuan di Desa Jatirogo dan Pilangrejo. Bahkan, situs serupa juga terdapat di Desa Tridonorejo, Kecamatan Bonang.
Sebab, dari beberapa informasi di lokasi Desa Tridonorejo terdapat temuan tumpukan bata merah dengan ukuran yang sama dengan di Desa Jatirogo, meski tak begitu banyak. Namun untuk memastikan nilai sejarah dari bata itu, hanya Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng yang berwenang.
Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Demak H Ridwan mengatakan, pihaknya sudah menerima temuan situs dari Desa Mrisen, rencananya akan dilaporkan ke Balai Purbakala Jawa Tengah. Dan rencananya Balai Purbakala akan menyurvei situs di Demak.
“Namun kali pertama, temuan situs di Desa Jatirogo Kecamatan Bonang yang akan disurvei dan diteliti oleh tim ahli Balai Purbakala,” pungkas Ridwan. (Written By tonitok / toni demak / wargademak.blogspot / Oktober 2012 / harsem/swi/15)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan kalimat yang sopan