Senin, 24 November 2014

BUKIT KANDORA

I. PENDAHULUAN


Daerah sekitar bukit Kandora, Mengkendek, Tana Toraja adalah satu tempat yang mempunyai kedudukan khusus dalam sejarah budaya suku Toraja. Sejarah Budaya suku Toraja menceritakan pada kita bahwa daerah ini beberapa kali menjadi pusat kediaman salah seorang dari antara ketua atau pimpinan tertinggi adat setempat. Tandilino Tobanua Puan, pemimpin dan leluhur sebahagian terbesar pemimpin adat tertinggi dahulu kala di Tana Toraja, berkedudukan di Sarimbano, Marinding, tiada berapa berapa jauh dari kaki bukit tersebut. Di Sarimbano, Marinding inilah tempat dibangun dan didirikan untuk pertama kalinya sebuah rumah “tongkonan” ‘rumah adat’, dalam sejarah budaya setempat terkenal dengan nama “ramba titodo”, tongkonan hampir semua pimpinan adat 40 orang jumlahnya waktu itu. Dalam tradisi setempat keempat puluh orang pimpinan adat setempat itu disebut “Arruan Patang Pulo” (artinya ‘ empat puluh daerah adat dengan pimpinan tertinggi bergelar arruan; pimpinan-pimpinan itu terkenal juga dengan gelar “ampu lembang” ‘yang empunya daerah’, atau “pararra’ “, suatu nama yang mengingatkan kita pada gelar para “pararaka” di Jawa Tengah dahulu kala.

Selanjutnya, sejarah datangnya arus pendatang baru ke daerah ini dengan pimpinan bergelar ”manurun di langi’ “ ‘yang turun dari langit’, menceriterakan antara lain bahwa Puang Tamborolangi’ bersama adik kandungnya bernama Karaeng Kasumba, datang ke daerah ini dan mendirikan istananya di kaki bukit Kandora tersebut. Sampai kini ditunjukkan orang bekas-bekas kediaman “menurun di langi’ ” tersebut di kaki bukit Kandora.

Di samping peristiwa tersebut di atas itu, daerah sekitar bukit Kandora tersebut dikenal juga sebagai daerah yang beradat-istiadat Sawerigading. Penghuni daerah ini sampai dengan akhir perang dunia kedua, setiap hari menghubungkan seluruh tindakannya dengan penghormatan kepada seorang “puang abadi” yang bergelar “Puang Parranan” (artinya ‘raja pelindung sepanjang masa’). Puang Parranan tersebut menurut tradisi setempat, adalah istri pertama Sawerigading, yang menjadi batu dan disimpan sampai kini di atas sebuah rumah ‘tongkonan’ di tengah desa Tengan di kaki bukit Kandora. Tampuk pimpinan desa itu sejak dari dahulu berada dalam tangan keturunan “Puang Jamallomo”, anak Sawerigading dengan puang Parranan tersebut.

Seluruh gerak gerik dalam pergaulan sehari-hari di desa ini tiada dapat dipisahkan dari penghormatan kepada batu suci penjelmaan istri Sawerigading tersebut. Membawa air dari sumur atau pancuran dalam bumbung bambu, harus dengan sikap mendahulukan mulut bumbung bambu ke arah persemayaman Puang Parranan tersebut. Memikul air dalam bumbung bambu dengan mengarahkan pangkal bumbung ke tempat kediaman Puang Parranan, di desa ini adalah tidak sopan dan akan mndapat tulah dari leluhur mulia dan keramat itu. Dahulu kala bila seseorang bergelar puang dari Makale, Sangngalla’, dan Mengkendek menginjakkan kaki di desa ini, harus mengeluarkan kasutnya bila ia dalam keadaan barkasut, turun dari atas punggung kudanya bila ia menunggang kuda, membuka topinya bila ia bertopi dan yang paling utama ialah pantang disapa dengan gelar ” puang” sementara ia berada dalam desa ini, karena ia harus tunduk kepada satu-satunya “puang” di dalam desa ini ialah Puang Parranan tersebut.

Satu diantara tradisi yang menarik dari penghuni desa ini ialah upacara syukuran “merok” terkenal dengan sebutan “merok Sawerigading”. Tradisi ini berbeda dengan upacara “merok” yang berlaku umum di seluruh Tana Toraja. Upacara merok yang berlaku umum di Tana Toraja acaranya dilaksanakan berhari-hari, bahkan harus didahului oleh acara-acara tertentu yang dilaksanakan setahun dua kali atau lebih sebelumnya. Upacara”merok Sawerigading” tersebut acaranya dilakukan hanya sehari semalam saja, tanpa didahului acara-acara lainnnya. Upacara ini dilaksanakan dengan mempersembahkan seekor kerbau hitam, putih bulu ujung ekornya, putih warna kuku kedua kaki belakangnya. dalam bahasa Toraja kerbau seperti itu disebut “tedong samara”. Upacara itu dipusatkan pada kediaman Puang Parranan tersebut. Dalam melaksanakan upacara itu, beberapa buah batu keramat yang bergelar “Puang Parranan penjelmaan “Puang Pindakati, istri pertama Sawerigading tersebut, diturunkan dari atas rumah, lalu dimandikan dan diberi pakaian baru (maksudnya diberi bungkusan yang baru). Persembahan, dalam bahasa toraja disebut “pesung” diletakkan oleh petugas di depan rumah kediaman Puang Parranan, di depan 3 buah batu. Sebuah dari batu itu berbentuk seekor angsa yang sedang duduk menengadah ke langit. Duah buah yang lain terletak bersusun dalam bentuk lingga-yoni, lambang kekuasaan dan kesuburan, semacam phallus cultus. Upacara “merok sawerigading” tersebut dimeriahkan dengan tari-tarian kesukaan seperti : ma’gellu’, ma’gandang, ma’nimbong dan ma’bugi’ yang dilaksanakan pada malam menduhului upacara. Sepanjang malam itu juga, ‘tominaa’ ‘ahli dan petugas’ upacara menyanyikan hymne “passomba tedong”, pujaan pada kerbau’. Versi lisan Sawerigading diceritakan malam itu juga.

II. MASALAH

Sampai dewasa ini prasejarah Indonesia terbatas pada beberapa peristiwa sejarah yang terjadi di Sumatra, Jawa, Bali. Prasejarah diluar ketiga pulau itu, antara lain prasejarah Sulawesi Selatan, belum banyak mandapat perhatian ahli sejarah. Cyclus 1 La Galigo menurut R.A Kern adalah sebuah mythos suku Bugis yang mengandung data sejarah suku Bugis di daerah-daerah Sulawesi Selatan /Tengah/Tenggara, bahkan juga sampai ke daerah Maluku dan Nusa Tenggara dan daerah lain. Tetapi siapakah sebenarnya Sawerigading itu ? Apakah ia hanya semacam personifikasi petualangan suku Bugis dahulu kala ke seluruh pelosok Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan kedaerah lain-lain, ataukah ia benar-benar seorang bangsawan makdara takku ‘murni’ pendiri sebuah kerajaan tertua di daerah Luwu? “Dan di manakah letaknya pusat kerajaan Luwu itu karena orang Wotu menjelaskan bahwa merekalah orang luwu asli. Kota Wotu adalah pusat kerajaan Luwu dahulu kala menurut mereka. Mereka menunjukkan sebidang tanah di tengah-tengah kota Wotu sekarang ini sebagai bekas tempat istana raja Luwu yang pertama. Sebatang pohon kayu, dalam bahasa Wotu disebut pohon ‘tamalilu’ ‘kenangan abadi’, tumbuh dipinggir bekas pusat kerajaan itu, dikatakan sudah berumur ratusan tahun, sebab ditanam sendiri oleh Sawerigading sebelum berangkat ke tanah Cina. Menurut keterangan, di seluruh daerah Wotu tidak ditemukan pohon ‘tamalilu’ selain yang ditanam oleh Sawerigading itu.

Selanjutnya, apakah versi lisan sawerigading di Kandora, Mengkendek, Tana Toraja itu, hanyalah sebuah mythos pula yang menunjukkan semacam pengaruh suku atau budaya suku Bugis di daerah ini ? Sudah jelas versi lisan Sawerigading di Tana Toraja tersebut adalah sebuah mythos yang memuat data-data sejarah lokal. Jamallomo, anak Sawerigading adalah “pangngala tondok” ‘pendiri desa’ Kandora. tradisi dalam desa Kandora tersebut menunjukkan titik peralihan dari sejarah kekuasaan ‘tomakaka’ (semacam ‘Urdemokratie’) kepada kekuasaan “kapuangan” (semacam ‘Arstokratie’) di daerah Makale, Tana Toraja dan di daerah Duri. Enrekang dahulu kala Pemimpin daerah Tallu Lembangna (Makale, Sangngalla,Mengkendek) di TanaToraja, dan daerah Tallu Batupapan (Alla’, Malua’, Buntubatu) di Duri. Enrekang dahulu kala menganggap dirinya keturunan Puang Pindakati (dalam cyclus Bugis disebut We Pinrakati) di Kandora, Tana Toraja tersebut. Versi lisan Sawerigading di Kandora Tana Toraja itu bagaimanapun juga menunjukkan hubungan prasejarah Tana Toraja dengan prasejarah suku Bugis dahulu kala.

Bagaimanapun juga dengan budaya suku Toraja dan budaya suku Bugis ? Adakah hubungan dan prasejarah antara kedua budaya itu dahulu kala ? Bahasa Makassar, Bugis, Mandar, Toraja oleh Roger Mills dikatakan berasal dari satu bahasa induk dahulu kala yang disebutnya “Proto South Sulawesi Language”. Lalu bagaimana dengan budaya Sulawesi Selatan dahuu kala? Adakah juga hubungan dan persamaan antara budaya Makassar, Bugis, Mandar, Toraja dahulu kala ? Versi lisan Sawerigading Tana Toraja tersebut menunjukkan beberapa aspek kesamaan budaya Bugis Toraja dahulu kala, antara lain tentang kepercayaan terhadap kehidupan sesudah kematian yang menjadi inti versi lisan Sawerigading Tana Toraja itu dan ditemukan dalam versi Bugis pada bahagian yang menceritakan perjalanan Sawerigading ke dunia arwah, disebut dalam versi Bugis “Laona Sawerigading Mammusuk ri Pamasareng”, ‘Sawerigading mengunjungi dan memerangi dunia arwah’. Bahagian cyclus 1 La Galigo versi Bugis tersebut menunjukkan persejajaran antara kepercayaan suku Toraja dan suku Bugis dahulu kala terhadap alam arwah orang mati yang disebut “pamasareng” dalam bahasa Bugis dan dalam bahasa Toraja tersebut “puya”. Kepercayaan inilah yang menjadi latarbelakang pemotongan hewa, terutama kerbau, pada upacara penguburan jenazah orang mati di Tana Toraja yang menarik minat turis berbondong-bondong berkunjung ke daerah Tana Toraja akhit-akhir ini.

III. TUJUAN

Penelitian ini berusaha mengungkapkan sekelumit prasejarah suku Toraja, khususnya sejarah “pangngala tondok”, ‘pendiri desa yang pertama’ dahulu kala di daerah ini, antara lain pendiri desa Kandora di Kecamatan Mengkendek tana Toraja yang diceritakan dalam versi lisan Sawerigading Tana Toraja tersebut.

Selanjutnya, tulisan ini berusaha mengungkapkan beberapa aspek sosioreligio-kultural versi lisan Sawerigading Tana Toraja tersebut, antara lain dan terutama tentang kepercayaan suku Toraja terhadap “puya”, ‘dunia arwah’. Pokok pikiran orang Toraja yang melatar belakangi kepercayaan mereka terhadap alam arwah itu dapat juga ditemukan dalam “kada toma’kayo” ‘mada petugas upacara kematian’ pada mengantarkan arwah jenazah orang mati ke dunia puya tersebut, dan juga dalm “badong ossoran” ‘mada dukacita’ yang dilagukan pada upacara kematian di daerah ini.

Oleh FRANS SOSANG P,S.Sos
http://jaringangin1.blogspot.com/2014/02/sejarah-bukit-kandora-di-tengan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan kalimat yang sopan