Rabu, 12 November 2014

Situs Megalith Gunung Emas (Bukit Puncak Villa) di Suliki Sumbar


Termasuk peninggalan situs megalitik Gunung Emas (Bukit Puncak Villa), di Desa Lmbanang, Kecamatan Suliki, Payakumbuh, Sumatera Barat.
Peninggalan sejarah purbakala banyak terdapat di Kepulauan Indonesia yang menurut beberapa ahli, Indonesia memang memiliki salah satu budaya tertua di dunia.
Untuk lebih mengenal peninggalan purbakala, kita akan mengawali artikel ini dengan pengertian dan jenis peninggalan purbakala secara singkat terlebih dahulu sebelum membahas situs megalitikum di Sumatera Barat.
Dan perlu diketahui pula sebelumya, bahwa  peninggalan purbakala dapat dibedakan atas dua pengertian yakni:
(a) Monumen mati (dead monument), yaitu peninggalan purbakala yang pada waktu ditemukan sudah tidak dipergunakan lagi sesuai dengan fungsi semula.
(b) Monumen hidup (living monument), yaitu peninggalan yang sampai saat ditemukan kembali masih dipergunakan sesuai dengan fungsi semula.
Benda-benda peninggalan purbakala di Kecamatan Suliki Gunung Emas, Kabupaten Lima Puluh Koto, Propinsi Sumatera Barat, merupakan kelompok dead monument, karena sudah tidak digunakan lagi sebagai sarana pemujaan/upacara/pemakaman.
Tradisi Megalitik
Tradisi megalitik ialah corak tradisi yang erat kaitannya dengan kepercayaan, yaitu adanya pertalian antara manusia yang masih hidup dengan yang telah meninggal. Percaya bahwa orang yang telah meninggal dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat, termasuk perihal kesejahteraan dan kesuburan tanaman.
Para ahli membedakan tradisi megalitik menjadi dua golongan besar, yakni:
(1) Megalitik Tua, yang berkembang sekitar 2500 SM – 1500 SM, dengan peninggalan berupa dolmen, punden berundak, batu pelingih, tembok batu, jalanan batu, batu-batu pengairan;
(2) Megalitik Muda, yang berkembang sekitar 1500 SM sampai abad-abad permulaan setelah Masehi, dengan peninggalan berupa kubur batu, dolmen, sarkopagus, bejana batu, yang dikerjakan dengan alat-alat yang terbuat dari logam.
Daerah-daerah di Indonesia yang banyak ditemukan peninggalan benda-benda megalitik, antara lain:
Nias, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sumba, Flores, dan Timor.
Bahkan di Pulau Nias, Kepulauan Nusa Tenggara, serta beberapa daerah lain, tradisi ini masih berlangsung sampai sekarang.
Upacara pemotongan kepala kerbau, misalnya, merupakan tradisi megalitik yang masih dapat dilihat sekarang. Kerbau memiliki kekuatan-kekuatan gaib-magis yang masih berlanjut hingga sekarang. Sehingga di Sumatera Barat ada yang mengaitkan bahwa bentuk rumah Minangkabau dengan tanduk kerbau.
Menurut dongeng tradisional, nama Minangkabau berasal dari kata-kata ‘kerbau yang menang.’ Kini “Kepala Kerbau” dijadikan lambang daerah Propinsi Sumatera Barat.
Sejarah Tanah Minang
Bumi Minangkabau pada waktu lalu, secara kultural terbagi menjadi tiga daerah, yaitu: Tiga Luhak (Luhak nan Tigo), Rantau, serta daerah barat laut dan tenggara. Luhak nan Tigo terdiri dari:
- Luhak Lima Puluh Koto beribukota di Payakumbuh,
- Luhak Agam beribukota di Bukittinggi,
- Luhak Tanah Datar beribukota di Batusangkar.
Luhak yaitu lembah yang luas, masing-masing lembah ini pada masa perkembangannya berubah menjadi daerah administratif tingkat II kabupaten. Satu di antaranya adalah Kabupaten Lima Puluh Koto.

Peta lokasi Kabupaten Lima Puluh Kota
Kabupaten Lima Puluh Koto pada masa-masa berikutnya tidak terdiri dari lima puluh koto lagi, karena ada yang tergabung dengan daerah lain misalnya Propinsi Riau.
Kata koto, pada awalnya disebuttaratak, kemudian berubah menjadidusun, setelah itu berubah menjadikoto, yang akhirnya disebut dengan istilah nagari (sekumpulan desa-desa).
Nagari adalah sebuah istilah, untuk menyebutkan suatu wilayah yang luas di Minangkabau. Sedangkan Nagari asal usulnya bermula dari Taratak – Dusun – Koto – Nagari. Pengertian singkatnya masing-masing adalah:
Taratak, adalah tempat awal oleh nenek moyang Minangkabau menetap.
Dusun, masyarakatnya yang berkembang kemudian dengan adanya adat, kehidupan masyarakat mulai tersusun, aturan tersebut disebut dusun artinya tersusun.
Koto, setelah dusun berkembang karena bertambahnya populasi masyarakat maka timbullah pemikiran untuk meningkatkan adat atau aturan masing-masing dusun, berbagai pemikiran kelompok dapat satu kato berarti satu kata mufakat, maka daerah ini dinamakan sakato, kemudian berdirilah beberapa Koto.
Nagari, daerah yang terdiri dari beberapa koto diberi batas atau dipagari karena tiap nagari memiliki aturan adat sendiri, dari kata pagar tersebut muncul istilah nagari. (Daftar nagari di Sumatera Barat)
Sedangkan kabupaten Lima Puluh Koto terdiri dari tujuh kecamatan, satu di antaranya adalah Kecamatan Suliki Gunung Emas.
Kecamatan Suliki Gunung Emas
Suliki Gunung Mas adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Kecamatan Suliki Gunung Emas memiliki pemandangan alam yang memesona, terletak pada suatu lembah yang dikelilingi bukit-bukit dan tebing-tebing yang terjal. Medan seperti ini menjadikan daerah ini sulit untuk dijejalahi dan jarang penduduknya.
Hingga tahun 1983 tercatat 72 kelompok menhir dengan jumlah lebih dari 1.000 buah. Sebagian besar dari jumlah ini ditemukan di desa-desa dari daerah (nagari) Mahat (orang lokal menyebutnya: Maek), yaitu satu nagari di antara 12 nagari yang ada di kecamatan ini.
Kenagarian Mahat (Maek)
Kenagarian Mahat (orang lokal menyebutnya: Maek) terletak di ujung utara Kecamatan Suliki Gunung Emas, yang merupakan lembah berbagar perbukitan, sehingga terkesan menjadi daerah terkurung (peta lokasi).
Namun daerah ini bercurah hujan tinggi, sehingga kesuburan tanahnya menjadikan daerah pemasok beras bagi daerah-daerah di sekitarnya.
Nagari Mahat terdiri dari lembah yang luas dikelilingi bukit-bukit kecil mempunyai luas 22.633 km2. Nagari Mahat terletak di Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat. Kabupaten Lima Puluh Kota terdiri dari 13 kecamatan yaitu:

Nagari Mahat yang terletak di lembah yang luas dikelilingi bukit-bukit kecil
1. Akabiluru
2. Bukit Barisan
3. Guguk
4. Gunung Mas
5. Harau
6. Kapur IX
7. Lareh Sago Halaban
8. Luhak
9. Mungka
10. Pangkalan Koto Baru
11. Payakumbuh
12. Situjuh Lima Nagari
13. Suliki Gunung Mas
Kenagarian Mahat memiliki sepuluh pedesaan, yakni: Ronah, Air Duri, Koto Tinggi, Ampang Gadang I, Ampang Gadang II, Koto Gadang, Bungo Tanjung, Sopan Gadang, Sopan Tanah, dan Nenan.
Peninggalan megalitik yang ditemukan di desa-desa tersebut, berupa: menhir, lumpang batu, punden berundak, batu dakon, batu-batu bulat, patung menhir, batur punden, batu-baru besar berlubang, batu besar berukir, dsb…

Menhir ini berada di Mahat (Maek) sekitar 2 jam dari Kota Payakumbuh dan bukan yang terbesar. Foto ini diambil di Koto Tinggi 27 Jan 2007 bersama Pak Datuk, sang ‘juru kunci batin’. Semua menhir menghadap ke satu arah. (Photographer: Raiyani Muharramah (raiyani)/west-sumatra.com)
Menhir bersejarah ini berada di Mahat. Disini ada dua lokasi menhir, yaitu di Koto Tinggi (300an buah menhir) dan Koto Gadang (50an buah menhir). Kedua lokasi berdekatan sebetulnya.
Dan yang tak kalah menakjubkan adalah bahwa lokasi Mahat tepat di bawah garis katulistiwa!
Foto ini diambil di menhir Koto Tinggi pada 27 Jan 2007 lalu. Pak Datuk, ‘juru kunci batin’ daerah Menhir ini diminta sebagai pembanding ukuran Menhir disini. Ini bukan ukuran menhir yang terbesar.
Uniknya, semua menhir ini menghadap ke satu arah tertentu. Seolah punya ‘kiblat’ tersendiri.
Banyak sekali tulisan-tulisan yang terdapat di menhir tsb yang perlu diterjemahkan para peneliti arkeologi. Tetapi sayang belum terdengar publikasinya.
Mahat ini berada sekitar 2 jam dari Kota Payakumbuh dengan kondisi jalan cukup bagus dan berkelok-kelok. Menhir merupakan jenis terbanyak yang ditemukan, serta dalam berbagai bentuk, ukuran, dan ragam hias.
Desa Ampang Gadang
Keunikan desa ini ialah pada pekarangan-pekarangan rumahnya terdapat menhir yang berdekatan dengan lumpang-lumpang batu (berlubang halus), bahkan ada juga batu bulat yang kadang-kadang berbentuk cakram. Hal lain yang menarik adalah ditemukannya menhir berbentuk pedang yang belum selesai dipahat. Dengan penemuan ini dapat memperkirakan cara-cara pembuatan menhir.
Sejumlah menhir juga ditemukan di sekitar lapangan sepakbola, di antaranya ada yang berukir. Menurut keterangan penduduk setempat, bagi yang berukuran besar dikubur di lapangan, karena sulit dipindahkan. Bila melihat pada menhir-menhir yang masih berdiri, kelompok ini berorientasi ke arah tenggara.
Sejumlah dakon juga ada di daerah ini. Selain itu terdapat juga bubur batu yang tersusun dari sepuluh batu monolit besar dan kecil, berbentuk persegi panjang, 215 x 105 cm, dan berorientasi ke barat laut – tenggara.
Terdapat juga batur, yang merupakan gundukan tanah setinggi 80 cm dengan luas 5 x 5 m, dengan tanda-tanda bekas diperkuat susunan batu. Menurut cerita penduduk setempat, tempat ini dahulu digunakan untuk bernazar dengan menyembelih sapi hitam.
Desa Koto Gadang
Pada desa ini terdapat situs Balai-balai batu (60 x 65 cm), yang terdiri dari batur pundenberukuran 6 x 6 m dengan tinggi 80 cm, serta menyimpan 35 menhir.
Bentuk menhir beraneka ragam, ada yang berbentuk pedang, berbentuk tanduk, berbentuk oval, atau dalam bentuk tak beraturan, dan bentuk-bentuk lainnya.

Rumah adat Raja Mengkulu di Koto Gadang (sekitar tahun 1870) – COLLECTIE_TROPENMUSEUM (Minangkabau -huis van Radja Mengkoeloe te Kotagedang nabij Fort de Kock Sumatra)
Menhir terbesar berukuran 43 x 40 x 251 cm, berhiaskan sulur dan pola geometris.
Kelompok menhir ini berorientasi ke tenggara, ke arah Gunung Sago. Berdasarkan keterangan penduduk setempat, di tengah batur punden dahulu terdapat menhir yang dikeramatkan, yang kemudian diambil oleh orang Belanda untuk disimpan di Museum Jakarta.
Menhir-menhir lain terdapat di tebing-tebing yang membatasi dusun ini, serta di pekarangan-pekarangan.
Lebih dari 1000 menhir berada pada tempat ini, yang kebanyakan berukuran besar. Tata letak menhir berbaris atau berderet secara teratur, satu di antaranya berukuran besar dan diletakkan di tengah-tengah. Di antaranya ada tiga menhir yang berbentuk seperti patung manusia atau binatang.
Desa Koto Tinggi
Desa ini memiliki sejumlah peninggalan megalitik berupa: menhir, batu dakon, batu besar berbentuk gunung, batu besar dengan tangga keliling. Di desa ini juga terdapat Situs Bawah Air, yang terletak pada ketinggian 350 m di atas permukaan air laut.
Situs ini berukuran 80 x 125 m, yang merupakan situs menhir terbesar di daerah Lima Puluh Koto Utara. Pada situs ini terdapat lebih dari 180 menhir, dengan tinggi satu hinga dua meter. Ada sejumlah menhir yang berbentuk kepala binatang kuda, gajah, anjing, ular, buaya. Menhir terbesar berukuran 50 x 68 x 405 cm, tetapi dalam posisi roboh.
Selain menhir, juga terdapat batu dakon dengan permukaan yang luas sehingga masyarakat setempat menyebutnya “Batu Hampar.” Selain itu juga terdapat batu besar menyerupai gunung dengan lubang sebesar lumpang, atau yang bertangga sampai puncak yang menunjukkan sebagai tempat pemujaan.
Selain di desa-desa yang telah disebutkan di atas, masih banyak desa yang memiliki peninggalan megalitik yang masih insitu. Desa-desa tersebut adalah Limbanang, Ronah, Bukit Ampar, Ateh Sudu, Sopan Gadang, Sopan Tanah, Pandam Gadang, Simpang Ampek, Anding, dan Koto.
Tempat-tempat yang menyimpan peninggalan megalitik tersebut, dapat dijadikan obyek dalam melakukan penelitian bagi insan perguruan tinggi, lembaga penelitian, lembaga swadaya masyarakat, serta perorangan, baik berasal dari luar negeri maupun dari dalam negeri. Selain itu juga dapat merupakan obyek wisata, baik wisata luar negeri maupun wisata domestik.
(Sunarno Sastroatmojo)(Asdep Konseruasi & Pemeliharaan/Proyek Pengembangan Kebijakan Kebudayaan/west-sumatra.com/pelita.or.id)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan kalimat yang sopan