Senin, 24 November 2014

BIOGRAFI SUTARDJI CALZOUM BACHRI

16
Pria kelahiran 24 Juni 1941 ini digelari ‘presiden penyair Indonesia’. Menurut para seniman di Riau, kemampuan Soetardji laksana rajawali di langit, paus di laut yang bergelombang, kucing yang mencabik-cabik dalam dunia sastra Indonesia yang sempat membeku dan membisu setelah Chairil Anwar pergi.
Dia telah meraih sejumlah pengharaan atas karya-karya sastranya. Antara lain Hadiah Sastra ASEAN (1979), Hadiah Seni (1993), Anugerah Sastra Chairil Anwar (1998), serta Anugerah Akademi Jakarta (2007). Dia memiliki gaya tersendiri saat membacakan puisinya, kadang kala jumpalitan di atas panggung, bahkan sambil tiduran dan tengkurap.
Penyair kondang lulusan FISIP Unpad jurusan Administrasi Negara, ini pada ulang tahun ke-67 Sutardji Calzoum Bachri, Selasa (24/6/2008) malam, yang diperingati di Pekanbaru, Riau, mendapat apresiasi dan kejutan.
Kejutan pertama dari rekan-rekannya di Dewan Kesenian Riau berupa penerbitan kumpulan puisi Atau Ngit Cari Agar dan buku …Dan, Menghidu Pucuk Mawar Hujan yang berisi kumpulan tulisan mengupas perjalanan sastranya. Atau Ngit Cari Agar adalah kumpulan puisi yang dia buat dalam kurun 1970-an hingga 2000-an. Puisi-puisi itu tak ada dalam buku kumpulan puisinya, Amuk (1977) dan Amuk Kapak (1981).
Kejutan tak terduga kedua ialah dari seorang pencinta seni Riau yang tak disebutkan namanya berupa uang Rp 100 juta. Soetardji tentu berterimakasih atas apresiasi itu, walau dia terlihat biasa saja saat menerima hadiah Rp 100 juta itu. “Sehebat-hebat karya sastra yang dihasilkan seniman tak berarti jika tidak mendapat apresiasi masyarakat,” ujarnya berterimakasih. Menurutnya, dia termasuk beruntung karena mendapat apresiasi.
Ketua Dewan Kesenian Riau Eddy Akhmad RM, mengatakan, pihaknya menabalkan Juni sebagai bulan Sutardji. Penabalan ini tak bermaksud mengultuskan Sutardji. Ini, katanya, pengakuan seniman Riau terhadap kemampuannya menjadi rajawali di langit, menjadi paus di laut yang bergelombang, menjadi kucing yang mencabik-cabik dalam dunia sastra Indonesia yang sempat membeku dan membisu setelah Chairil Anwar pergi. ?e-ti/binsar halomoan
***
Dalam karyanya berjudul Ayo (1998) dia bertanya: Adakah yang lebih tobat dibanding airmata adakah yang lebih mengucap dibanding airmata adakah yang lebih hakekat dibanding airmata adakah yang lebih lembut adakah yang lebih dahsyat dibanding airmata. (Ayo, Sutardji Calzoum Bachri, 1998)
Soetardji membacakan puisinya pada malam terakhir dalam rangkaian Festival Nopember 1999, Rabu (17/11/1999). Euphoria reformasi, di tangan penyair, sepertinya telah mencapai titik antiklimaks. Pembacaan puisi malamitu adalah buktinya. Gelar baca puisi yang menampilkan ‘presiden penyair Indonesia’ Soetardji Calzoum Bachri itu jauh dari teriakan euphoria reformasi, dan jauh dari sajak-sajak sosial yang gusar.
Kalau belakangan ini hampir seluruh ekspresi seni nasional menyerukan perjuangan dan tuntutan rakyat atas dominasi kekuasaan pemerintah, maka malam itu di gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), suara-suara para penyair — juga pada sajak-sajak Abdul Hadi WM, Leon Agusta dan Ahmadun YH yang malam itu tampil bersama Soetardji — lebih banyak mengendap dalam sajak-sajak yang kontemplatif.
Kalaulah Sutardji menyempatkan diri mengemukakan keprihatinannya atas perjuangan para mahasiswa melalui sajak Ayo, itu masih dalam jumlah yang kecil dibanding puisi-puisi lain yang juga dibacanya. Pun sajak-sajak hening yang dibawakan oleh Leon, Ahmadun, dan Abdul Hadi. Bahkan, Sutardji membacakan puisi romantis yang diterjemahkannya dari bahasa Spanyol tentang seorang perempuan lembut yang sarat cinta.
Pembacaan puisi-puisi kontemplatif itu terasa menyejukkan dan lebih mengena secara universal ketimbang sekadar sajak-sajak yang mereaksi peristiwa sosial-politik yang tengah terjadi di masyarakat. Sutardji yang membawakan beberapa karya terbarunya mengatakan sajak yang bermutu perlu proses pengendapan dan penghayatan, tak sekadar instan mereaksi yang ada. ”Ada atau tak ada peristiwa, sajak tetap bisa dibikin karena kita terus berpikir dan bertafakur,” paparnya.
Namun, kalau berbicara soal gaya dan pembawaan bersajak, Sutardji tetaplah Sutardji. Edan, namun bermakna dalam. ”Setiap orang harus membikin sidik jarinya sendiri, karakternya sendiri. Biar tak tenggelam dan bisa memberi warna,” kata pengklaim diri Presiden Penyair Indonesia ini.
Menggandeng dosen IKJ Tommy F Awuy sebagai pengiring musik, Sutardji membaca sajak-sajaknya dengan ditingkahi denting piano. Tak ketinggalan pula suara seraknya menyanyikan beberapa lagu evergreen Barat, antara lain My Way. Dan, ini merupakan daya tarik tersendiri bagi ‘penyair mantra’ yang belakangan sering diledek sebagai calon presiden Riau itu.
Gayanya yang jumpalitan di atas panggung, bahkan berpuisi sambil tiduran dan tengkurap, seperti telah menempel menjadi trade mark Sutardji. ”Aku tak pernah main-main sewaktu membikin sajak, aku serius. Tapi, ketika tampil aku berusaha apa adanya, santai namun memiliki arti,” katanya.
Apakah puisinya itu baik atau buruk, bagi Sutardji, ia berupaya dalam penyajiannya tak berjarak dengan penonton. ”Kehadiran sajak itu harus akrab dengan penonton, tak berjarak dengan kehidupan,” tambahnya. Tapi, beberapa penonton menilai penampilan Soetardji kali ini tidak setotal ketika ‘bertarung dalam satu panggung’ dengan Rendra dan Taufiq Ismail tahun lalu. Soal ini, dengan nada kelakar ia berkilah, ”soalnya honornya kecil, ya tampilnya setengah maksimal saja.”
Penyair sufistik Abdul Hadi WM, yang membawakan sajak-sajak lama (1981-1992), menenangkan suasana dengan tuturan kecintaan pada Allah SWT dan kekhidmatannya pada masjid. Menampilkan delapan puisi dengan gaya kalem ia sempat juga mengkritik keras kualitas kader bangsa. Simak saja dari sepenggal karyanya berjudul Dalam Pasang yang dibacakannya. ”Kita adalah penduduk negeri yang penuh pemimpin. Tapi tak seorang pun kita temukan dapat memimpin. Kita…….”
Kritik serupa juga hadir dalam sajak berjudul Kembali tak Ada Sahutan Disana yang mengungkapkan bahwa suksesi yang tak berlandaskan pada kearifan dan keadilan sama halnya lari dari kehancuran yang satu ke kehancuran lainnya. ”Bertikai memperebutkan yang tak pernah pasti dan ada. Dari generasi ke generasi. Menenggelamkan rumah sendiri. Ribut tak henti-henti….,” ujar Abdul Hadi.
Berbagai interpretasi tak terhindarkan bermunculan dari karya kontemplatif. Saat Abdul Hadi membacakan puisi Elegi, muncul perkiraan adanya korelasi dengan kian nampaknya eksistensi para seniman bekas anggota ormas terlarang yang menjadi musuh para pendukung Manifes Kebudayaan.
Musuh-musuhku, namun sahabat-sahabat setiaku juga.
Saban kali datang melukaiku dan kemudian menyembuhkan:
”Mari kita bangun jembatan,” dan kami pun segera membangun jembatan dan runtuh juga.
Mereka tak tahu dan aku pun sudah lupa ….
Dan seperti aku pula mereka adalah pemburu kekosongan dan kesia-siaan Mereka ingin membunuhku, karena mengira aku ingin membunuh mereka Aku ingin membunuh mereka karena mengira mereka ingin membunuhku Mari kita tolong mereka, mari kita tolong diri kita
Leon Agusta yang membuka acara pembacaan puisi ini tampil diam dan gagah. Membawakan beberapa puisi serial, ia mengajak penonton mengolah pikiran dan kebijakan atas segala fenomena kehidupan. Ayah peragawati kondang Hukla ini, tanpa banyak kata pengantar, menyajikan tuntas semua karyanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan kalimat yang sopan