Senin, 03 November 2014

Mengenal Sully Prudhomme, Sastrawan Perancis

Sully Prudhomme (lahir di ParisPerancis16 Maret 1839 – meninggal di Châtenay-MalabryPerancis16 September 1907 pada umur 68 tahun) ialah penyair Perancis, yang memenangkan Hadiah Nobel Sastra pertama pada 1901. Keputusan ini menimbulkan banyak debat - Sully-Prudhomme tak menerbitkan banyak puisi setelah 1888. Kini Sully-Prudhomme juga secara relatif sedikit dibaca baik di Perancis maupun di seluruh dunia. Karya-karya awalnya berlirik dan mengekspresikan pandangan melankolis pada dunia – di jilid terakhir ia menyukai ketenangan, teknik impersonal dari Parnassia, yang bereaksi terhadap emosi berlebihan dan subjektivitas Romantisisme.
René François Armand Sully-Prudhomme dilahirkan di Paris. Orang tuanya telah bertunangan selama 10 tahun, dan setelah memperoleh keamanan keuangan mereka menikah. Di usia 2 tahun Sully-Prudhomme kehilangan ayahnya, dan ia besar di rumah pamannya, di mana ibunya pindah. Ayahnya disebut 'Sully' dan penyair mengikutinya dengan nama belakangnya Prudhomme. Di sekolah ia tertarik dengan sastra klasik dan matematika, namun kerusakan mata yang serius membuatnya meninggalkan rencananya untuk belajar keahlian teknik. Ia juga berpikir serius memasuki Ordo Dominican. Setelah lulus dari Lycée Bonaparte ia menjadi koresponden pabrik di perusahaan industri Schneider-Creuzot. Sully-Prudhomme belajar hukum dan dari 1860 ia bekerja di kantor notaris. Terinspirasi oleh hubungan cinta yang tak menyenangkan – ia menjadi bujangan seumur hidup – ia belajar filsafat di malam hari dan menulis puisi. Penyair Leconte de Lisle mendorong usaha pertamanya, walau ia mencatat bahwa anak didiknya tak setia pada cita-cita Parnassia pada kemewahan klasik, namun lebih memilih menggambarkan perasaan dalamnya sendiri. Buku pertamanya, Stances et Poèmes, terbit saat berusia 26. Kumpulan sajak yang sedih diterima baik. Memuat puisi terbaiknya yang diketahui, 'Le vase brisé'. "Le vase où meurt cette vervaine / D'un coup d'éventail fut fêlé; / Le coup dut l'effleurer à peine, / Aucun bruit ne l'a révélé. " Pada 1886 Sully-Prudhomme ialah salah satu penyumbang antologi Le parnasse contemporain, dan kemudian membuat Les écurias d'augias (1866),Croquis italens (1866-68), dan Les solitudes (1869).

Sully-Prudhomme ingin memperbaiki standar klasik kemewahan dalam puisi. Penyair dan filsuf Romawi Lucretius (99-55 SM) memengaruhi Sully-Prudhomme sedalamnya. Ia menerbitkan terjemahan sajak jilid pertama Lucretius On the Nature of Things (De Rerum Natura), bersama dengan kata pengantar yang menyertai. Lucretius menganjurkan dalam syair didaktis doktrin Epicurea dan menyatakan bahwa "orang harus memandu hidupnya dengan prinsip yang benar, kekayaan terbesar manusia ialah hidup dalam kesederhanaan dengan pikiran yang berpendapat; untuk sedikit tak pernah kurang." Kemudian Sully-Prudhomme tertarik dalam mengekspresikan pemikiran filosofisnya, kadang-kadang mungkin sulit dimengerti, melalui puisi. Terkadang ini menimbulkan penggunaan gambaran didaktis – ia menjelaskan lambangnya sebagai pengganti membiarkan pembaca menafsirkannya.
Saat Perang Perancis-Prusia mulai, Sully-Prudhomme mendaftarkan diri ke militer dan menulis Impressions de la guerre (1870). Pada tahun yang sama ibu, paman, dan bibinyameninggal, dan ia terkena stroke, yang hampir melumpuhkan tubuhnya yang lemah, keadaan di mana ia harus berjuang untuk istirahat hidupnya. Selama dasawarsa itu muncul juga Les vaines tendressess (1875) dan La justice (1878). 'Le Zénith', diterbitkan dalam Revue des deux mondes, menghadapi kenaikan fatal 3 balonis. Pada 1881 ia dipilih keAkademi Perancis.
Di antara karya-karya Sully-Prudhomme yang belakangan ialah epik 4.000 baris Le bonheur (1888), pencarian Faustian untuk cinta dan pengetahuan, dan percobaan ambisius untuk yang disebut syair filsafat ilmiah. Selama sisa-sisa kariernya ia memutuskan pada filsafat puisi. Dalam Le testamente poétique (1900) ia menunjukkan tujuannya untuk versi bebas dan karya simbolis. La vraie religion selon Pascal (1905), ialah tentang pandangan Kristen Blaise Pascal, dan dalam La psychologie de libre arbitre (1906) ia menyimpulkan bahwa konsep keinginan bebas secara objektif terhubung di alam dan kemudian harus benar. Selama tahun terakhir hidupnya Sully-Prudhomme sungguh-sungguh cacat oleh kelumpuhan. Ia meninggal di villanya di Châtenay-Malabry, dekat Paris, pada 7 September 1907. Uang dari Penghargaan Nobelnya disumbangkannya untuk asosiasi penulis Perancis untuk menolong penyair bercita-cita tinggi dengan penerbitan buku pertama mereka.

Kutipan Sully Prudhomme

Carl David af Wirsen, Sekretaris Tetap Akademi Swedia, menetapkan dalam presentasi Nobelnya, bahwa "Karya Sully Prudhomme mengungkapkan pemikiran yang mengandung pertanyaan dan meneliti yang tak menemukan istirahat pada apakah nilainya dan yang mana, sebagaimana nampak tak mungkin padanya untuk tau lebih banyak, menemukan keterangan takdir supernatural manusia dalam dunia moral, dalam suara nurani, dan dalam resep kewajiban yang tinggi dan tak dapat disangkal lagi."

Puisi

  • Stances et poèmes1865.
  • Les épreuves1866.
  • Les solitudes: poésies, A. Lemerre (Paris), 1869.
  • Les destins1872.
  • La France1874.
  • Les vaines tendresses1875.
  • Le zénith (puisi), published in journal Revue des deux mondes1876.
  • La justice (puisi), 1878.
  • Poésie, 1865-88, A. Lemerre, 1883-88.
  • Le prisme, poésies diverses, A. Lemerre (Paris), 1886.
  • Le bonheur (puisi), 1888.
  • Épaves, A. Lemerre, 1908.

Prosa

  • Œuvres de Sully Prudhomme (poetry and prose), 8 volumes, A. Lemerre, 1883-1908.
  • Que sais-je? (philosophy), 1896.
  • Testament poétique (essays), 1901.
  • La vraie religion selon Pascal (essays), 1905.
  • Journal intime: lettres-pensée (diary), A. Lemerre, 1922.


sumber: wikipedia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan kalimat yang sopan