Senin, 03 November 2014

Sisa-sisa Peradaban Kerajaan Kembar Gowa-Tallo Sulawesi Selatan

Riwayat Kerajaan Kembar Gowatallo Masa Purba
Sejarah kerajaan kembar Gowa-Tallo dimulai dengan Kerajaan Gowa saja. Ibu kotanya Tamalate (Indonesia -= tidak layu). Kerajaan Gowa pada masa itu terdiri atas sembilan negeri bawahan (kasi¬wiang salapang), yaitu Tombolo, Lakiung, Parang¬parang, Angangje'ne, Saumata, Data', Bissei, Kalling, dan Sero (Patunru, 1969:1). Masing-masing dikepalai oleh seorang raja kecil yang disebut gallarang. Pejabat gallarang duduk di dalam Dewan Negeri (Bate Salapang) dan dipimpin oleh seorang pejabat ketua, yakni paccalaya. Tugas utama paccalaya adalah hakim tinggi dalam sengketa antara gallarang.

Naskah lontarak menyebutkan bahwa ada empat raja. yang memerintah Kerajaan Gowa masa purba. Raja-raja itu berturut-turut adalah- Batara Guru, Nibunowa (a) Ritalali (saudara Batara Guru yang nama aslinya sampai sekarang belum diketahui), Ratu Sopu (Manrancai), dan Karaeng Katangka.

Sesudah periode pemerintahan Karaeng Katangka ber¬akhir, Keradjaan Gowa mengalami masa gelap dalam sejarah. Keterangan sejarah baru ditemukan kembali berkaitan dengan munculnya tokoh Karaeng Paccalaya. Raja ini berhasil mempersatukan kembali etnis Makassar dan menggabungkan kesembilan negeri pemerintahan federasi. Kesembilan kerajaan kecil yang bergabung dalam federasi Gowa dalam perkembangannya menjadi Dewan Sembilan (Bale Salapang). Sumber lontarak .menyebutkan periode Karaeng Paccalaya berakhir setelah datangnya tokoh baru, Tumanurung (±1300). Tumanurung adalah seorang putri yang "turun dari kayangan" di Takak Bassia. Sayangnya, sumber lontarak sedikit sekali menggambarkan periode ini dibandingkan periode sesudahnya, yakni sejak menjelang terpecahnya kerajaan Gowa menjadi Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo.

Kerajaan Kembar Gowa-Tallo
Naskah lontarak baru memberikan keterangan kembali menjelang pertengahan abad XIV dalam masa pemerintahan raja GowaVI Tunatangkalopi. Dari periode ini ditemukan keterangan tentang pembagian wilayah Kerajaan Gowa atau dua bagian kepada dua orang putra Tunatangkalopi, yakni Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Kerajaan Gowa dikuasai oleh Batara Gowa (raja ke-7) dan Kerajaan Tallo dikuasai oleh Karaeng Loe Risero. Kerajaan Gowa meliputi daerah Pacellekang, Pattalassang, Bontomanai Ilau, Bontomanai Iraya, Tombolo, dan Mangasi. Sementara itu Kerajaan Tallo, meliputi Saumata, Pannampu, Moncong Loe, Parang Loe.

Meskipun Raja Tunatangkalopi telah memberi kekuasaan kepada kedua putranya ternyata belum berbuah damai. Perang saudara selama bertahun-tahun tidak bisa di¬hindari. Barulah pada periode raja Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Mangnguntungi "Tumaparisi Kallongna" akhir abad ke- 15 atau awal abad ke-16 kedua kerajaan kembar tersebut dapat digabung kembali dalam bentuk pemerintahan koalisi lewat perjanjian rua karaeng nase're ata (dua raja, tetapi hanya satu rakyat). Hubungan kedua kerajaan yang sangat erat menyebabkan bangsa Belanda menamakan Zusterstaten, yakni dua kerajaan bersaudara. Raja Tallo otomatis berkedudukan sebagai Mangkubumi dengan gelar Tunabbicara Butta. Tugas Mangkubumi sebagai orang kedua adalah ber¬tanggung jawab atas pengaturan tata tertib dan ke¬sejahteraan negara.

Pembangunan Benteng
Di bawah kekuasaan raja Gowa IX (15 I 0--1546) dan X, I Mario Gau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng (1546--1565), daerah kekuasaan Kerajaan Kembar Gowa Tallo telah meliputi seluruh wilayah etnis Makassar, Kerajaan Gowa Tallo muncul sebagai kekuatan terbesar di jazirah selatan Sulawesi. Demi mempertahankan kedudu¬kannya, Kerajaan Gowa Tallo membangun benteng Somba Opu sebagai pertahanan utama, dan diperkuat benteng Panakukang (di sebelah selatan) dan Benteng Ujungpandang (di sebelah utara). Benteng-benteng pertahanan berfungsi sebagai tempat konsolidasi dan pusat kekuatan pertahanan serta perluasan kekuasaan.

Dalam periode pemerintahan dwi-tunggal, dibangun pula kota dan fasilitas dagang. Pengembangan ini seperti dicatat Kerckright (1638) menempatkan kota tua Tamalate sebagai pusat upacara sakral dan kematian, sementara kota ham Somba Opu dikembangkan sebagai pusat pemerintahan dan niaga.

Somba Opu dalam waktu singkat mampu tumbuh men¬jadi sebuah bandar niaga berwibawa. Pedagang acing datang mendirikan kantor perwakilan. Pemukiman ber¬nuansa etnis muncul, sehingga merangsang terjadinya komunikasi antar budaya dan agama. Pada taraf ini pedagang muslim berhasil membuka babakan baru peradaban Islam.

Peradaban Islam
pengaruh Islam lewat pedagang muslim sesung¬guhnya telah sampai di kerajaan Gowa Tallo sejak masa pemerintahan Raja X, Tunipallangga Ulaweng (1546--1565). Pedagang muslim pada saat itu telah di izinkan tinggal dan mendirikan mesjid di Mang ngallekana Somba Opu oleh raja Gowa XII Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bonto Langkasa (1565-¬1590). Bahkan, sebelum permulaan abad ke-l7 sudah terdapat pemuka-pemuka agama Islam di kalangan orang Makassar yang menerima Islam dari Jawa (Demak), Malaka, dan Ternate (Mattulada, 1982:40). Prakondisi ini memantapkan penerimaan agama Islam oleh raja dan masyarakat kerajaan Gowa-Tollo.

Penerimaan Islam sebagai agama resmi negara merupa¬kan babak barn dalam peradaban di Kerajaan Gowa¬ Tallo, setelah beberapa periode pemerintahan tidak di¬temukan perubahan yang mendasar. Peristiwa ini ber¬langsung dalam periode pemerintahan Raja XIV, Sultan Alauddin (1593--1639). Sultan Alauddin atau 1Mangarangi Daeng Manrabia "Tumemenanga ri Gaukana". bersama Raja Tallo 1 Mallingkaan Daeng Manyonri dengan gelar Sultan Awwalul Islam (Mangkubumi Kerajaan Gowa) adalah pejabat yang pertama memeluk Islam, yaltu tanggal 22 September 1605 (Abd. Muttalib, 1979). Pengislaman dilakukan oleh Abdul Ma'mur Chatib Tunggal (Dato'ri Bandang, seorang mubaligh dari Kota Tengah, Sumatra Barat. Sesudah ikrar Islam itu, raja mendirikan mesjid kerajaan. Lalu, Agama Islam dinyata¬kan sebagai agama resmi kerajaan.

Selain pedagang muslim datang pula pedagang Belanda yang tergabung dalam VOC. Berbeda dengan pedagang muslim, Belanda menampilkan agresivitas menghadapi sikap pasivitas Gowa-Tallo dalam dunia dagang, se-hingga mengubah tatanan perniagaan Somba Opu men¬jadi kolonisasi. Ketegangan berlanjut dengan perang. Perang antara Gowa dan Belanda mencapai puncaknya dalam masa pemerintahan Raja Gowa XVI I Malombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin "Tumenangari Balla Pangkana". Akhirnya, Gowa kalah dan menandatangani perjanjian Bongaya. Benteng-benteng dirubuhkan dan peradaban sedikit demi sedikit tergusur.

Sisa-Sisa Peradaban Kerajaan Gowa-Tallo
Wilayah sebaran sisa-sisa peradaban Kerajaan Gowa-Tallo terdapat di perbatasan, Kabupaten Gowa dan Kota Madya Ujungpandang, yakni Kecamatan Somba Opu (Kabupaten Gowa) dan Kecamatan Tamalate (Kota Madya Ujungpandang). Sisa-sisa peradaban tersebut, antara lain berupa:

Istana (Balla Lompoa)

Istana teletak di Kelurahan Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Didirikan oleh raja Gowa ke-35, I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bonionompo Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin Tumenangari Sungguminasa.Bangunan istana terakhir ini menghadap ke selatan, atap¬nya terbuat dari sirap. Bangunan utama mempunyai 54 tiang, dinding berwama cokelat antik. Sisi kiri dan kanan dinding mempunyai 6 buah jendela. Sementara itu bagian depan mempunyai 4 buah jendela. Sebagaimana rumah khas etnis Makassar, Balla L.ampoa mempunyai bangunan tambahan di depan dengan 16 tiang. Pada bangunan tambahan ini ditempatkan tangga, dengan 13 buah anak tangga.

Sekarang, istana tersebut dijadikan museum Balla Lompoa..Koleksi warisan kerajaan (arajang) disimpan di sini, di antaranya keris, pakaian kebesaran raja, bendera kerajaan, peralatan perang, piring dan mangkuk keramik.

Benteng Anak Gowa
Benteng anak Gowa terletak lebih kurang 2 kilometer ke arah Barat Sungguminasa. Meskipun bangunan benteng tidak utuh lagi denah bangunan yang berbentuk persegi masih tampak. Luasnya kira-kira 9 ha. Bangunan benteng terbuat dari batu bata berukuran relatif besar. Pada keempat sisi benteng terdapat pintu masuk. Sebelah luar benteng dikelilingi kanal, sebagaimana tampak pada re¬lief tanahnya. Fungsi benteng Anak Gowa adalah per¬tahanan depan yang ditujukan untuk mengatasi musuh yang akan masuk ke Benteng Tua.

Benteng Tua
Benteng Tua sebagian kecil terletak di Kota Madya Ujungpandang, dan sebagian besar terletak di Kabupaten Gowa. Bagian utara bangunan Benteng Tua termasuk dalam wilayah Kota Madya Ujungpandang, sedangkan sebagian daerah di sebelah selatan termasak Desa Katangka, Kecaniatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.

Naskah lontarak nenyebutkan bahwa Benteng Tua dibangun pada abad ke-16 M, pada masa pemerintahan raja Gowa IX. Benteng ini pada mulanya hanya berupa gundukan tanah memanjang ± 3,5 km. Tinggi benteng tidak kurang dari 1,5 meter. Dengan denah yang tidak beraturan, jumlah dan letak pintu sampai sekarang belum bisa ditentukan secara pasti.

Pada masa permerintahan raja Gowa X (± 1550 M), bangunan benteng diperkuat dengan batu bata. Ada tiga macam ukuran dan cara penggarapan batu bata yang digunakan. [1] panjang 30 cm, lebar 19 cm, tebal 3,5 cm; [2] panjang 27 cm, lebar 15 cm, tebal 3„5 cm; [3] panjang 27 cm, lebar 15 cm, tebal 6 cm.

Akibat perjanjian Bungaya (1667 M), bangunan benteng ini dihancurkan. Sisa bagian benteng yang dapat di¬saksikan berupa gundukan tanah dan batu bata, serta ada yang dimanfaatkan menjadi jalan kampung (sisi barat kampung Lakiung).

Dalam lingkungan Benteng Tua yang telah hancur terdapat sisa peradaban Gowa-Tallo lainnya: kompleks makam Aru Pallaka, kompleks makam Tamalate, bungung barania, bungung lompowa, batu Tumanurung, bungung bissu, dan kompleks makam-mesjid Katangka.

Kompleks makam Aru Pallaka


Aru Pallaka adalah raja Bone, musuh besar Gowa. Beberapa kali Aru Pallaka menyerang Gowa-Tallo. Kawin dengan perempuan bangsawan Gowa Karaeng Balla-Jawaya ketika proses penaklukan Gowa-Tallo atas bantuan Belanda sedang dilaksanakan. Atas kemenang¬annya, ia melakukan upacara potong rambut panjang pada tahun 1672 ( Andaya, 19817148). Anehnya, jasad sang penakluk dari Bugis ini diterima oleh Makassar, dan dimakamkan di kerajaan Gowa bersama istrinya.

Kompleks makam Aru pallaka berada tepat di atas punggung bukit, Bonto (bukit) Biraeng, Kelurahan Katangka. Di dalam kompleks ini terdapat 4 buah cungkup dan bangunan makam berupa jirat dan biasa. Makam Aru Pallaka dan istrinya terdapat di dalam kubah terbesar, sebelah barat Kubah makam Aru Pallaka dan istrinya berbentuk bujur sangkar dengan ukuran sisi¬-sisinya 6,75 x 6,25 M. Pintu masuk terletak di sisi barat. Pada kiri dan kanan pintu masuk terdapat jendela. Pintu dilengkapi undak selebar 1,5 M dan tangga dengan pipi tangga sepanjang 2,5 M., dibagi 2 undakan. Pada pipi tangga sebelah utara terdapat meriam tua, berfungsi sebagai hiasan. Pada ambang pintu terdapat hiasan flora. Hiasan flora juga menghiasi sisi luar dinding kubah bor pelipit

Dinding terbuat dari batu kapur yang dibentuk sebagai balok batu denan, berketebalan rata-rata 20 cm. Penempatan bahan bangunan direkat kapur dari pasir. Pada sudut timur Taut dinding terdapat bagian yang menjorok keluar semacam penampil yang tidak jelas fungsinya. Seluruh permukaan bangunan diturap dengan lepa.

Nisan Aru Pallaka dan istrinya terbuat dari batu alam. Permukaan nisan ditutup dengan semen. Pada kedua sisi (kaki dan kepala) terdapat pahatan flora yang keempat sudutnya terdapat lubang untuk menempatkan tiao kelambu, mirip krobongan pada makam-makam di Jawa. Nisan Aru Pallaka berbentuk persegi panjang dengan tinggi 76 cm, sedangkan nisan istrinya berbentuk bulat dengan tinggi 26 cm.

Dua kubah lebih darpadai kubah Aru Pallaka yang terletak di sebelah timur merupakan makam Karaeng Matoaja dan Karaeng Patingaloang. Kedua tokoh ini adalah raja Tallo yang menjadi Mangkubumi kerajaan Gowa-Tallo yang rnempunyai kelebihan luar biasa. Karaeng Matoaya dicatat oleh Steven van der Hagen (Begin ende Voortgangli, 1646) sebagai Mangkubumi yang efektif dan bijaksana. Raja bijak ini mengembangkan surplus beras secara teratur dan mempelopori niaga beras kepada pedagang Eropa (West, 1617). Sernentara itu, Karaeng Patingaloang dikenal sebagai intelektual yang mereformasi urusan pemetaan, tata negara, hukum pelayaran dan perseroan, dan catatan istana berupa kelahiran, per-kawinan, perceraian dalam keluarga istana, pembangunan benteng dan istana, kedatangan utusan.

Bangunan kubah yang keempat terletak di sebelah setatan. Selain bangunan kubah makam di dalam kompleks ini, terdapat pula bangunan jirat semu dan makam dengan bentuk dan pola hias khas yang sama dengan yang terdapat di kompleks makam Tamalate.

Kompleks Makam Tamalate

Meriam Tua
Di depan pintu gerbang Kompleks Makam Tamalate, Kabupaten Gowa
(tidak insitu lagi)


Prasasti baru pada Jirat Semu


Bangunan Jirat Semu Pemakaman Hasanuddin
Di Kompleks Makam Tamalate, Kabupaten Gowa

Kompleks makam Tamalate terletak di punggung bukit Tamalate. Di dalam kompleks makam ini terdapat satu makam kubah, sembilan jirat semu, dan beberapa jirat biasa. Jirat-jirat makam tersebut dibuat dari balok batu kapur. Setiap balok batu memiliki ketebalan ± 15 cm. Di dalam makam kubah terdapat makam Raja Gowa XI, / Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Datta "Tunihatta". Makam jirat semu tujuh di antaranya dapat dikenali identitasnya. Masing-masing raja Gowa ke-44, ke-115, ke-16, ke-17, ke-18, ke-19, dan seorang raja Tallo. Dua jirat semu lainnya belum diketahui identitasnya. Sementara itu dari sejumlahah jirat biasa, hanya satu yang dapat diketahui identitasnya, yaitu Arung Lamoncong dan Bone. Arung Lamoncong berjasa membawa kembali jenazah I Tajiharani ke Gowa.

Sumur Keberanian (Bungung Barania)

Sumur Keberanian (Bungung Barania)
Tempat minum Laskar Gowa-Tallo sebelum berangkat perang

Bungung Barania terletak di sebelah barat daya kompleks makam Tamalate. Cerita rakyat yang berkembang me¬nuturkan bahwa Bungung Barania dahulu merupakan tempat minum prajurit (pakkanna) sebelum berangkat perang. Mereka percaya bahwa minum air Bungung Barania akan menambah keberanian (mempertinggi sikap ksatria).

Sumur Basar (Bungung Lompoa)
Bungung Lompoa terletak di barat laut kompleks makam Tamalate, pada dataran rendah, tepat di kaki bukit Tamalate. Semua bagian sumur terdiri dari susunan balok batu kapur yang dalam penempatannya direkat dengan spesi. Bentuknya bujur sangkar dengan sisi kurang lebih 4 meter. Tinggi pagar 75 cm. Sumur ini diperkirakan merupakan sumber air utama kerajaan sejak abad ke¬15. Penemuan sumber air ini mirip cerita Siti Maryam menemukan sumur zam-zam. Konon, istana Tamalate mengalami kekeringan. Karaeng Bayo (suami Tumanu¬rung) berjalan-jalan mencari air, secara kebetulan ia menemukan sumber air di kaki bukit tandus Tamalate (Wolhof dan Abdurrahim, tt : 912). Sampai sekarang, sumur tersebut masih merupakan sumber air terbaik bagi penduduk sekitar perbukitan Tamalate.

sumber: http://gowa-negeri1001cerita.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan kalimat yang sopan