Minggu, 09 November 2014

Tulisan Dessy Wahyuni,"Berburu Fakta dalam Puisi Esai"

Puisi adalah salah satu genre sastra yang berisi ungkapan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif, diungkapkan dengan pilihan kata yang cermat dan tepat dengan mengerahkan semua kekuatan bahasa.

Karangan yang terikat oleh rima, ritma, atau pun jumlah baris, serta ditandai oleh bahasa yang padat ini merupakan pengucapan gagasan yang bersifat emosional dengan mempertimbangkan efek keindahan.

Ekspresi yang konkret dan bersifat artistik tersebut merupakan ungkapan dengan makna yang tersirat secara implisit dan samar. Oleh sebab itu, kata-kata yang digunakan dalam puisi juga biasanya cenderung bermakna konotatif.

Puisi pada hakikatnya merupakan suatu bentuk komunikasi. Ada pesan yang disampaikan seorang penyair ketika menuliskan sebuah puisi. Namun, apa yang terjadi?

Dengan berlindung di balik licentia poetica, penyair kerap tergoda untuk mengutak-atik cara berbahasa dalam mencipta puisi. Banyak yang menganggap bahwa makin tidak lazim diksi yang digunakan, maka puisinya akan terlihat semakin baik, atau bahkan makin menyalahi tata bahasa, puisi yang tercipta makin bercahaya.

Dengan mengatasnamakan licentia poetica, para penyair dapat menciptakan sebuah karya yang keluar dari konvensi yang berlaku, termasuk konvensi bahasa sebagai media karya sastra itu sendiri.

Lisensi atau izin tidak tertulis yang diberikan kepada para penyair untuk menerjang kaidah tata bahasa yang baik dan benar adalah semata-mata untuk menimbulkan efek-efek tertentu sesuai keinginannya.

Berbagai penyimpangan kaidah yang kerap terdapat dalam puisi ternyata membuat puisi itu semakin sulit untuk dipahami publik. Tentu saja hal ini menimbulkan multitafsir.

Penikmat puisi hanya bisa meraba-raba pesan yang disampaikan penyair melalui karyanya tersebut. Besar kemungkinan pesan yang dikomunikasikan penyair tidak dapat tersampaikan sebagaimana mestinya.

Berangkat dari ketidakpahaman publik terhadap pesan yang disampaikan banyak puisi belakangan ini, menggelitik Denny Januar Ali (Denny JA) untuk bereaksi.

Menurutnya, puisi seharusnya bisa dinikmati masyarakat luas dan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Ia lantas melakukan riset terhadap dua sumber, yaitu pakar puisi dan masyarakat luas dengan menggunakan sampel.

Dua sumber itu sampai pada kesimpulan dan harapan yang sama. Mereka merindukan puisi yang lebih peduli kepada publik luas, di luar dunia para penyair itu sendiri. Mereka juga rindu dengan bahasa puisi yang lebih mudah dipahami (Denny JA, 2013:34).

Untuk menjawab kesimpulan dan harapan masyarakat sebagai hasil riset yang dilakukannya, Denny JA  memperkenalkan genre baru, yaitu puisi esai. Ini sebuah puisi yang sangat panjang, berbabak, dengan catatan kaki, serta bahasa yang mudah mengerti. Puisi esai mengangkat isu sosial.

Puisi esai ditulisnya sebagai reaksi atas puisi dengan bahasa  rumit, yang membuat puisi semakin terisolasi dari publik luas.

Denny JA menerbitkan sebuah buku puisi esai yang berjudul Atas Nama Cinta (Maret 2012). Buku kumpulan puisi ini menyajikan puisi-puisi dengan bahasa yang mudah dan memberikan tema yang kerap menjadi kegelisahan masyarakat.

Buku ini juga dengan dapat diakses melalui jaringan media sosial seperti Twitter, smartphone,  dan internet, sehingga memudahkan pembaca untuk memperolehnya.

Puisi esai merupakan salah satu fenomena penting dalam sastra Indonesia. Menurut Nenden Lilis Aisyah dalam tulisannya yang berjudul “Alun Biduk Puisi Esai di Laut Zaman”, puisi esai pada intinya adalah suatu bentuk pengucapan yang dipilih untuk menggambarkan, memberi pemahaman, dan merefleksikan isu sosial berdasarkan fakta dengan cara yang menggetarkan hati, yakni dengan mengeksplorasi sisi batin manusia melalui puisi.

Jadi,  hal ini merupakan penggabungan antara fakta dan fiksi. Dalam hal ini, fakta merupakan permasalahan yang berisi peristiwa-peristiwa sosial, sementara puisi merupakan sarana pengucapan fakta tesebut yang diramu sedemikian rupa untuk menyentuh hati nurani pembaca.

Tujuan gagasan dan gerakan puisi esai ini lebih pada fungsi puisi untuk mengetengahkan masalah-masalah sosial ke hadapan masyarakat luas.

Oleh sebab itu puisi esai tidak menuntut eksplorasi bahasa di wilayah estetik. Bahasa yang diharapakan justru bahasa yang mudah dipahami dan dengan pemanfaatan aspek-aspek puisi dapat menggetarkan hati.

Selain itu, puisi esai bertujuan agar pembaca menyadari bahwa yang dikemukakan dalam puisi tersebut bukan sekadar fiksi, tetapi fakta yang didukung oleh catatan kaki.

Denny JA mengemukakan dalam tulisannya yang berjudul “Puisi Esai: Apa dan Mengapa?” bahwa terdapat beberapa platform puisi esai tersebut.

Pertama, puisi esai mengeksplor sisi batin individu yang berada dalam sebuah konflik sosial. Puisi esai tidak hanya memotret sebuah kisah, tetapi lebih dalam lagi, sebuah puisi esai menggambarkan satu problema dalam komunitas tertentu. Kedua, puisi esai menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

Sebagai sebuah media komunikasi, puisi esai diupayakan dapat dipahami oleh setiap lapisan pembaca. Semua perangkat bahasa seperti metafor, analogi, dan sebagainya tetap menjadi pilihan utama, namun dengan rangkaian kata yang mudah dimengerti.

Prinsip puisi esai, semakin sulit  puisi itu dipahami publik luas, semakin buruk puisi itu sebagai media komunikasi penyair dan dunia di luarnya.

Ketiga, puisi esai adalah fiksi. Puisi esai dapat saja memotret tokoh nyata yang hidup dalam sejarah, namun realitas itu diperkaya dengan aneka tokoh fiktif dan dramatisasi.

Hal yang menjadi penting dalam puisi esai adalah renungan dan kandungan moral yang disampaikan lewat sebuah kisah, bukan semata potret akurat sebuah sejarah. Keempat, puisi esai tidak hanya lahir dari imajinasi penyair, tetapi hasil riset (minimal realitas sosial).

Semua isu sosial yang terjadi pada sebuah komunitas dapat diangkat menjadi puisi esai. Meskipun ini adalah fiksi, tetapi berada pada latar realitas sosial.

Catatan kaki menjadi sentral dalam puisi esai ini. Hal ini menunjukkan bahwa fiksi tersebut berangkat dari fakta sosial.

Dalam catatan kaki itulah bisa terlihat realitas sosial secara rinci yang dieksplor ke dalam puisi esai. Kelima, puisi esai berbabak dan panjang.

Pada dasarnya puisi ini adalah drama atau cerpen yang dipuisikan. Dalam sebuah puisi esai, selayaknya tergambar dinamika karakter atau perubahan sebuah realitas sosial. Oleh sebab itulah sebuah puisi esai disajikan berbabak dan panjang.

Kaum realisme sosialis meyakini bahwa sastra mencerminkan kehidupan atau proses sosial. Pada hakikatnya sastrawan tidak bisa terlepas atau melepaskan diri dari kenyataan sosial.

Pengarang tidak sekadar menampilkan kembali fakta yang terjadi dalam kehidupan, melainkan telah membalurinya dengan imajinasi dan wawasannya.

Oleh karena itu puisi yang dihasilkan tidak sama persis dengan kehidupan nyata, akan tetapi tetap saja dalam menghasilkan karyanya, pengarang dipengaruhi oleh lingkungannya.

“Sapu Tangan Fang Yin” adalah salah satu puisi Denny JA yang terangkum dalam Atas Nama Cinta, sebagai sebuah contoh. Melalui pendekatan historis, terlihat bahwa puisi ini bercerita tentang kasus perkosaan seorang gadis keturunan Tionghoa pada kerusuhan Mei 1998. Membaca “Sapu Tangan Fang Yin” mengingatkan kita kembali akan Kerusuhan Mei 1998 tersebut.

Bila diamati secara mendalam terdapat pertentangan antara karya sastra yang bersifat fiksi dan sejarah yang bersifat fakta.

Karya fiksi biasanya lebih mementingkan unsur imajinasi yang bersifat subjektif, sedangkan sejarah lebih mementingkan fakta yang bersifat objektif (Junaidi, 2009).

Namun dengan mengandalkan kreativitasnya, Denny J.A. mampu menyatukan dua hal yang berbeda itu ke dalam puisi rekayasanya.

Dengan mengambil Jakarta sebagai latar tempat peristiwa, pengarang menggambarkan situasi yang miris; rumah-rumah dibakar, toko-toko dijarah, kerumunan massa membuas, serta perkosaan dan penganiayaan merajalela.

Saat itu Indonesia benar-benar menjadi sasaran kemarahan dunia karena peristiwa memalukan dengan adanya kejadian pemerkosaan dan tindakan rasialisme yang mengikuti peristiwa gugurnya pahlawan reformasi.

Mungkin, terlalu dini menabalkan puisi esai sebagai genre baru sastra Indonesia, karena sebenarnya, tanpa embel-embel “puisi esai” di belakang atau depannya, banyak penyair Indonesia, bahkan dunia, yang memotret realitas masyarakat dalam karya-karya.

Tetapi, sebagai sebuah gaya penulisan puisi yang sedikit berbeda, apa yang dilakukan Denny JA dan rekan-rekannya yang kini “berjuang” menerbitkan puluhan buku berlabel “puisi esai”, pantas diapresiasi, sekaligus dikritisi.***

Dessy Wahyuni, Alumni Pasca-sarjana Manajemen Pendidikan  Universitas Negeri Jakarta (UNJ)
sumber: http://www.riaupos.co/opini.php?act=full&id=1923&kat=1#.VGBI8IK5K14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan kalimat yang sopan