Selasa, 23 Desember 2014

KITAB KE 17 MAHABARATA, PRASTHANIKAPARWA

1.      Demikianlah Sang WaiÇampãyana akan berpalingtetapi mahãrãja (raja besar) Janamejaya hanya berpaling darinya :
                        “ Hai pendeta Mahamuni, apakah perbuatan raja besar Yudhişţira, sehingga dia akan habis dibunuh sang kelompok Yadu? Bagaimana, ini membuat ddua terus supaya diberi bantuan”.
     Disana Raja besar Janamejaya, berkatalah bhagawan  WaiÇampãyana, anda akan berpaling :
                        “  Bahwa petuah (contoh) raja besar Yudhişţira buat Sang Arjuna,berkatalahbeliau:
     “ ingatlah kamu akan diberi bantuan Sang Dewa Kala begini, karena dari segala sesuatu yang ada/mahkluk mati, Sang Dewa Kala dari segala sesuatu yang ada itu, kita serta melihat kekhawatiran Sang Dewa Kala karena sebaiknya kita beristirahat di tempat saudara pada lubang gua di hutan sebab mereka bertemu membicarakan tiga dunia , olehmu jangan bernafsu pada
kerajaan”.
Demikian perkataan raja agung Yudhisthira, memberitahukan sang Arjuna beserta saudaranya semua akan segala maksudnya raja agung Yudhisthira, sampai kepada sang Dropadi diberitahukannya, menyetujuilah beliau semua, bersama-sama menetap dan bertempat tinggal. Di sanalah dinobatkan sang Pariksit, memilih  raja bagi Hastinapura, sang Yuyutsu merasakan mengenai beliau Bagawan Krpa, adanya upacara kurban untuk menghormati arwah nenek moyang dan mengadakan upacara jenazah sang tarik Yadu, memberikan hadiah uang  bagi sang Brahmana, sesudah upacara itu selesai ditanggalkan pakaian kerajaannya, diberikan bagi sang Pariksit, menyambutlah beliau, segala tanda dari biksu, sampai kepada sang Bhima Arjuna Nakula Sahadewa, semua bersama-sama memulai tapa semua, menjaga sang Dropadi, berpesan beliau pada sang Subhadra, berkatalah 
anda :
                        “Adiknya menyatakan hormatnya yang dalam kepada sang Subhadra, menunjukkan perasaannya, engkau diserahkan kepada sang raksasa Perikesit penguasa jagad raya, kemudian sang guru yang bijaksana, melarang kamu mengalirkan tangisan, inilah penguasa hutang yang sedang berjanji, menunjukkan perasaan hati”.
                        Sang Subadra yaitu penguasa yang tidak tersohor, pulang ke alam bawah atau alam ular, Citranggada pulang ke Nipuradeca, istri raja pulang ke desanya tumenggung sang Prabhawaha, inilah istri dari lima sekawan yang menyebabkan berakhirnya Hastinapura yang bersandar kepada sang Parikesit, menangislah mereka semua, terbunuhlah sang Sembadra.
2.      Keluarlah sang Pandhawa, keenam bersama Dropadi, ada anjing yang ikut  sang Pandhawa, kemudian mengikuti sang Yuyutsu utuk menjaga Bhagawan Krpa, orang-orang tani, menjaga sang Brahmana, ksatriya, waisya, sudra, bersama-sama melanjutkan ke belakang, menangis tidak tahu kekuatan mereka, bunyi itu istri yang tertinggal tidak terdengar tangisan mereka semua, ingat ulah mereka, ketika mereka kalah berjudi, demikianlah perbuatan mereka, tetapi tidak ada ganti mereka yang merawat beliau, sedangkan tangisnya terus menerus, agar makmur, pula sang Yuyutsu, Bhagawan Krpa supaya mengembalikan, kepada sang Yuyutsu, menyembah maharaja Yudhisthira, kemudian sedih dan sakit, tidak akan dibicarakan sang Yuyutsu, Krpa, pergilah berjalan, sang Pandhawa, bersama  Dropadi, ada anjing yang mengikutinya, dan di datanginya, seorang yang teguh setiannya agar ketujuh orang berjalan bersama saya. Perjalanan anda ke Utara, bertemu dengan sungai, kemudian beliau datang ke sungai di pegunungan, jalannya itu ke timur, dahulu laut pula, tetapi sekarang Arjuna berkelana, Sang gendawa Mahesudhi tak kunjung binasa : kelihatan itu Sang Dewa Api dalam bentuk manusia, supaya beliau menyamar.
     “Hai Pandusta wirah! Anda anak Sang Pandu, dia Sang Dewa Api, Sang Arjuna membakar hutan : gendawa Mahesudhi itu sebaik anda. Supaya mengembalikan ke Baruna, bukankah habis guna iri hati anda, seperti sudah habis guna oleh senjata bagus Bhatara Kresna, pergilah mereka, kesanalah, diberikan mereka ke Bhatara Baruna, bukankah pendeta ada yang berguna”.
Kesana meminta pendapat dewa Agni, berhati-hatilah Pandawa, diberikannya gendewa Mahesudhi yang dijatuhkannya oleh air samudra, maka senanglah dewa Agni, selanjutnya Pandawa berjalan, pergi ke Selatan melanjutan perjalanan melewati air, tidak ada yang mengikuti mereka, selesainya anak panah dan gendewa dikembalikan pada Bhatara Baruna, itulah sebabnya maka pelanjutan perjalanan mereka  menuju kea rah selatan ke Bharatawarsa, datanglah  mereka ke Daksinagara, selanjutnya ke Pacimasagara, yang dipenuhi air laut, berhenti menjadi negara, menangislah mereka sampai penghabisan, terharu sampai tidak terlihat tarik yadu, bukankah penuh riak, tidak diwarnai oleh riak, datanglah mereka ke gunung Himawan, di sana mereka semua bersemadi, percaya kepada hatinya Bhatara oleh sang Hyang Mahameru, bertemulah dengan beliau walukarnawa, tempat mati karna yoga, Drupadi jatuh ke tanah tak bergerak, Werkudara memberitahukan.
3.      “ kakak, Sri Baginda Maharaja Yudhistira, melihat tuan putri Drupadi, mati berguling di tanah, tidak kuasa mengikutsertakan tuan putri, tolonglah beliau dengan perlindungan.” Perkiraan Dharmawangsa : “ adik hamba, Bhima, jangan amat kau sesalkan Dia.”
     Pakṣapāto mahān asyā wiҫeṣeṇa dhanañjaye tasyaitat  phalam adyaiwa prāpnoti kulasattama“. Kita bersaudara lima , lihatlah, lebih sukanya pada Arjuna, semoga buah perbuatan darinya, yaitu bertemu Dia.
“Sri Raja, sang Sahadewa juga meninggal, terlihat terguling-guling di tanah, adapun peristiwanya, bagaimana perasaan menurut pendapatnya?” “adik saya, sang Wrkodara, inilah kejadian yang dialami”.
Na kasyacid mahāprajāńā ātmanaḥ sadṛḉā bhawet, tena doṣeṇā patitas tasmād eṣa nṛpātmajaḥ.
“ada perpisahan seseorang yang ilmunya sama, bagaimana dahulu  di dalam kerajaannya seperjalanannya bertemu lagi dengan mereka, suatu kebenaran kematian, apa ia sukar menggunakan kebijaksanaan mereka di dunia nantinya, yang sebesar lengan demikian itu, dosa mereka itu, sebab jatuh, janganlah kalian sakit”.
“Sri raja, beginilah sang Nakula ikut mati, bagaimana sebabnya?”  
Sang Werkudara berkata kepada hamba:
Rȗpeṇa matsamo nȃsti kaçcid ity asya darçanam, adhikaç cȃham ewaika ity asya manasi sthitam”.
“Barang siapa yang mengetahui yang bernama Nakula, yang tidak ada persamaan dari rupanya, dan ia menumbuhkan kesombongannya, begitu kemudian kekurangannya, yang tidak boleh kita ikuti.”
“Nama pada hamba kakak raja, inilah sang Arjuna yang mempunyai kekuatan seperti sang hyang Indra, tiba-tiba mati tanpa sebab, terlihat berbaring di tanah.”
Ekȃhnȃ nirdahet çatrȗn ity uwȃca Dhanaňjayaḥ, tathȃ caitan na tathȃ ca karttawyaṃ bhȗmim icchatȃ”.
4.      Pada jaman dahulu ketika berperang melawan Kurawa, Arjuna menyangka bahwa dalam jangka waktu satu hari dapat mengalahkan Kurawa. Namun siasatnya meleset, ia hanya mencari perlindungan saja untuk menyelamatkan diri supaya tetap hidup. Itulah hukuman bagi Arjuna, sehingga ia mati tak dapat mengikuti.
“Baginda raja, tolonglah tuan hamba Bima, bahwa badan kami hingga gemetaran, tanpa mengikuti kuasa tuanku”
“Disitulah sifatnya yang gemar makan, lagipula dia tidak memperdulikan yang lain, perkataannya pun kasar, dan menyombongkan kesaktiannya. Mereka itulah yang menjadikan kami, sekarang tenangkanlah hatimu”.
Demikianlah kiranya sang Raja mati tergelincir sang Bhima. Setelah kematian keempat Pandhawa dan sang Dropadi, sesudah itu maharaja Yudhisthira tinggal berdua dengan seekor anjing, tak perlu dibicarakan lalu sang Dharmawangsa  tentang perjalanan beliau, akan diceritakan tentang yang setelah itu meninggal, mengenai jiwa mereka berjalan dalam penjagaan, bersama dengan kelima termasuk Dropadi, setibanya mereka di dalam Banjaran Sari, melewati suatu tempat bertemu  pintu dan meminta pintu: “ Nenek Anda Hyang Dwarika, saya meminta pintu”. Jawab hyang Dwarika dengan hormat: “ Siapa yang meminta pintu?”
“Ikut hamba, Sang Pandhawa”. “aku tidak memberi pintu!”
Jawab Sang Bhima: “ Ah! Seandainya tidak diberi, aku hancurkan pintu itu”.
Mereka bersama-sama membuka pintu; melewati suatu tempat sampai di persimpangan jalan, seandainya mereka dibukakan pintu, kemudian mereka lewat dan bertemu di jalan, Pandawa bingung tentang apa yang hendak mereka perbuat. Banyak jalan sehingga tidak tahu jalan mana yang hendak mereka ikuti. Akhirnya mereka menangis karena banyak jalan menuju ke surga yang banyak arahnya. Yang ada hanya sepi, sunyi, senyap, kemudian mereka bingung. Kemudian ada sang Resi Narada yang memberi tahu mereka di jalan, kemudian memberitahukan agar mereka pergi ke Yamaloka, mengetahui sang Pandawa dibohongi, karena sudah habis perbuatan khianat itu dari Doryudana , kemudian dia bersembunyi. Lalu diikuti mereka ke arah Barat Daya, terlihatlah sang Karna yang sedang sengsara/sedih melihat saudaranya sang Pandawa, apabila diikuti, dia bersembunyi disana. Maka tidak diampuni bila hendak membayar hutangnya ke Doryudana, maka langkah mereka dipercepat, namun langkah Karna terkejar oleh sang Pandawa. Melihat sang Karna mengikuti mereka, mereka menyapanya:
5.      “Selamat datang kakak tuanku, apakah kemudian alasan akan mengikuti saya?”
     Adik sang Dhananjaya, begini: hamba pada dahulu, ijuk di antara daerah, berperang dengan tuanku, pembayaran hutangku dengan Duryodhana, karena memeberi kesenangan pada hamba, hamba balas dengan kematian, saya bersaudara dengan anda sang penarik Pandhawa, sekaranglah bertemu kesengsaraan tak akan berpisah hamba sekarang, menyasar hamba di dalam duka duka nestapa
                        Seperti itu kata sang Karna.tidak menceritakan pada Yamaloka. Sesudah ia sampai. Diceritakan sang Pelindungnya.
                        Di dalam kematiannya sang empat Pandawa kelima sang Dropadi, terakhir kemudian Yudhistira seorang diri, tetapi barang siapa anjing naik dalam kereta:
“Raja Agung Yudhistira, kamulah kawan dan anakku, tabiat manusia terendah itu demikianlah, agar supaya mendapatkan surga, adapun kamulah hasil dalam surga, pahala dari pengetahuan tentang dharma”. “Sang Bhatarendra, sungguh bukan main itu anugrah padaku, adapun permohonan saya baik itu anjing bolehkah masuk dalam surga dengan kuasa yang saya serahkan”
                        “Raja Agung Yudhistira, apa yang dapat kulakukan untuk anjing ikut pulang ke surga, meski kotor, bahkan jika memandangnya dalam nasi dan minuman keras, itu oleh dewata jangan sampai tidak ada kamu untuknya “.
                        Demikianlah perintah Bhatararendra, kiranya Sang Raja:
“tidak dibolehkan saya memutuskan kesetiaan meninggalkan anjing itu, selalu setia mengikuti kemanapun saya pergi, dan memutuskan julukannya agung di tempatnya, sehingga beliau itulah yang mengalahkan ketidakselamatan/ kejahatan yang ditinggakannya”.
“Raja Yudhistira, yang menjadi keputusan hukum tentu, apa kita meninggalkan keluarga kita, kesetaan itu telah berhenti bagi tuanku.
“Sang Bhatara Indra, tidak memutuskan namanya, tinggalkanlah apa yang menjadi bukti, masa hidup, menunjuk pada kejahatan/dosa mereka dengan istri patih yang setia, patih brahmana, tidak menolong kepada orang yang meminta pertolongannya, mencuri uang di kebaikan, berkhianat kepada kawan, membunuh kawan, maka sesudah itu sebabnya tidak berhak meninggalkan dia, lebih suka tidak pulang ke surga yang dijadikan panutan/cita citanya,pasrah meninggalkannya”.
6.      Kesana perkataan Maharaja Yudhistira, hilang disana anjing, takhluklah Sang Hyang Dharma kehalusan  Maharaja Yudhistira:
“Anakku Maharaja Yudhistira, yang kedua saya menguji padamu  di zaman dahulu (ketika engkau) di soraki di Dwaitawana, terjadilah bahwa kelihatan kejujuranmu yaitu tidak maulah (kamu) menghidupkan Sang Bhisma Arjuna, hanya Sang Nakula Sahadewa yang disuruh olehmu hidup oleh karena terlihat yang sakit Sang Madri, maka (kamu) tidak mau, kesanalah beliau nanti mau ke pondok jangan naiklah ke surga oleh cinta kepada anjing, tak ada caci maki dan merasa kasihan, matang kepulangan dari surga dengan hidup dirantai
Demikian kata perkataan sang Dewa Dharma, secara tidak terduga-duga kemudian datang sang pendeta Nȃrada, mengiringi langkah sang Yudhiṣṭhira, terbang melalui langit memuji-muji:
“Lokān āwṛtya yaḉasā tejasāwṛtya rodasĭṃ, swaḉarĭreṇa saṃprāptaṃ nānyaṃ ḉucruma Pāṇḍawāt”.
“ Mahȃrȃja Yudhiṣṭhira, beliau melihat hamba pergi ke surga nama baik/jasa beliau, surga itu tentang dunia terhadap beliau, tidak semua bisa kembali ke surga dengan hidup-hidup, makin terlihat yang lebih dari beliau daripada raja-raja terdahulu”.
                        “Sang Dewa Indra”, demikian Yudhiṣṭhira”, dengarkanlah pertanyaan yang hamba katakan: manakah tempat orang saudara hamba itu semua katakan pada hamba?” demikian kata Yudhiṣṭhira.
“jangan menghiraukan itu, anakku Mahȃrȃja Yudhiṣṭhira, jangan mencampuri urusan saudara-saudaramu, pikiran manusia itu, tak kan bisa bersama-sama, karena tabiat tiap manusia berbeda dari penjelmaan yang amukti phala dipekerjaannya, janganlah tuanku mencampuri urusan sanak lain dan sang maharesi kapwa hendaknya diperhatikan olehmu”.
“Daulat Bhatara Indra, hamba tak dapat peduli dengan sang Dropadi, demikian yang banyaknya hamba ikut suka cita.
Tair winanotsahe wastum mahadaitya –niwarhana gantum icchami tatraham yatra me bhrataro gatah.
“Dibuangnya tubuh hamba kembali pada surga yang tidak ada sodara hamba dan Dropadi, hamba menolak,ini pendapat Hamba.
Demikianlah kata perkata maharaja Yudhisthira pada raja dewa. Begini Prastnanikaparwa.

sumber: http://jawaampuh.blogspot.com/2012/01/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan kalimat yang sopan